PEMIMPIN yang benar-benar hebat itu dilahirkan, bukan diciptakan.
Itulah inti dari Great Man Theory seperti dikatakan Mark Van Vugt dan
Anjana Ahuja dalam The Natural Leader (2015:27). Menurut Van dan Ahuja,
seorang individu yang menonjol (the great man) akan muncul pada saat
krisis dan menggiring bangsa menuju kemenangan atau menyelamatkan
perusahaan dari kebangkrutan.
Teori tokoh besar itu sangat pas
untuk menggambarkan sosok Mohammad Hatta. Tokoh yang lahir di Fort de
Kock (Bukittinggi), Sumatera Barat, pada 12 Agustus 1902 adalah pemimpin
yang lahir di tengah-tengah rakyat yang membutuhkan figur yang kuat,
teguh dalam memegang prinsip, berani mengambil risiko, berwawasan, dan
memiliki intelektual serta pergaulan luas untuk membawa kemerdekaan
Indonesia dari penjajah Belanda.
Hatta memiliki itu semua. Ia
telah belajar kepemimpinan dan organisasi dari lingkungan terkecil,
yakni keluarga. Kemudian saat menjadi siswa sekolah menengah di Padang
pada 1918, ia ditunjuk sebagai bendahara organisasi pergerakan, Jong
Sumatranen Bond (Pemuda Sumatera). Aktivitas dalam organisasi dan
kepemimpinan terus digeluti sepanjang hidupnya. Dia juga seorang
intelektual yang tak hanya mengenyam pendidikan di dalam negeri, tetapi
belajar di sekolah tinggi ekonomi Rotterdamse Handels Hogeschool,
Belanda.
Selama di Belanda, ia tak melulu belajar akademik,
tetapi juga aktif di organisasi pergerakan untuk menyuarakan kemerdekaan
Indonesia. Dia juga aktif menghadiri dan kemudian menjadi pembicara di
sejumlah forum organisasi mahasiswa atau kaum pergerakan untuk menentang
imperalisme di sejumlah Negara di Eropa. Kesibukannya dalam pergerakan
dan berorganisasi, termasuk di Perhimpunan Indonesia (PI) –Hatta adalah
Ketua PI terlama, 1926-1930— membuatnya baru bisa menyandang Drs setelah
11 tahun –dari waktu ideal 5 tahun-- kuliah.
Karena memiliki
tingkat intelektual dan berwawasan luas, Soekarno pada 17 Agustus 1945
sekitar pukul 03:00 hanya memercayakan kepada Hatta untuk merancang
naskah proklamasi yang dibacakannya beberapa jam kemudian. Kepada Bung
Hatta, Soekarno mengatakan, “Aku persilakan Bung Hatta menyusun teks
ringkas itu sebab bahasanya kuanggap yang terbaik. Sesudah itu kita kita
persoalkan bersama-sama. Setelah kita memperoleh persetujuan, kita bawa
ke muka siding lengkap yang sudah hadir di ruang tengah.”
Hatta
pun tak bisa menolak meski saat itu di salah satu ruang di rumah
Marsekal Maeda itu ada Subardjo, Soekarni, dan Sayuti Melik. Hatta
kemudian meminta Bung Karno untuk menulis apa yang ia diktekan. Dalam
otobiografi jilid III berjudul
Menuju Gerbang Kemerdekaan
(2011:91-92), Hatta mengatakan, kalimat pertama (proklamasi) diambil
dari aline ketiga rencana pembukaan UUD 1945, yaitu “Kami bangsa
Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.” Tapi, kalimat
itu belum berisi cara menyelenggarakan revolusi nasional. Lalu Hatta
mendiktekan kalimat tambahan: “Hal-hal yang mengenai pemindahan
kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam
tempo yang sesingkat-singkatnya.”
Pemilik nama kecil Mohammad
Athar ini berdarah Minangkabau. Ayahnya, H Mohammad Djamil (30),
meninggal ketika Hatta berusia 8 bulan. Hatta dan kakaknya, Rafiah,
serta ibunya, Siti Saleha, tinggal bersama kakeknya Ilyas bergelar
Baginda Marah yang ia panggil Pak Gaek. Ayahnya adalah keturunan ulama
besar di Batuhampar, Payakumbuh, Sumatera Barat. Kakek dari ayahnya
adalah pengasuh pesantren yang pada abar ke-19 merupakan pusat
pendidikan Islam paling terkemuka di Minangkabau.
Ibunya berasal
dari keluarga pedagang atau pengusaha yang secara ekonomi sukses.
Selain menjadi pedagang berbagai kebutuhan sehari-hari, Pak Gaeknya
dipercaya pemerintah Hindia Belanda untuk memegang pengangkutan pos
jalur Bukittinggi-Lubuk Sikaping. Gaeknya juga menyediakan berbagai
barang kebutuhan para pekerja di tambang batubara di Sawahlunto,
Sumatera Barat.
Karena usahanya banyak, Pak Gaek mendelegasikan
beberapa pekerjaan kepada anakbuah yang masing-masing bisa mengambil
keputusan sesuai wewenang yang diberikan. Usaha jasa pos diserahkan
kepada Mohammad Saleh, paman Hatta, tetapi dengan pengawasan sangat
ketat dari Mak Gaek (nenek). Pengambilan keputusan masih tetap dipegang
Mak Gaek sehingga pamannya tidak berkembang.
“Sebagai
kanak-kanak aku sudah melihat dari dekat dua cara pimpinan yang
berlainan, sentralisasi dan desentralisasi yang kemudian menjadi
pelajaran bagiku,” kata Hatta. Menurut Hatta Pak Gaek telah menerapkan
konsep desentralisasi kekuasaana, sedangkan Mak Gaek masih tetap
melakukan sentralisasi kekuasaan.
Berbagai peristiwa yang
menimpa rakyat dan dialami saat masih kanak-kanak, remaja, hingga
dewasa, ia petik sebagai pelajaran kehidupan dan kepemimpinan yang
sangat berharga yang kelak menjadikannya sebagai pemimpin besar. Perang
Kamang pada 1908 menjadi pelajaran berharga bagaimana rakyat yang marah
karena Belanda ingkar janji melakukan perlawanan secara fisik. Dari
rumahnya, Hatta sering mendengar dan melihat polisi-polisi Belanda
memeriksa dan menyiksa rakyat setelah peristiwa Perang Kamang. Saat
itulah Hatta sudah berpikir bahwa (penjajah) Belanda itu jahat.
Rakyat
yang tertindas kaum penjajah itu sebenarnya ingin bersuara. Tetapi,
sering kali mereka tak berdaya dan tidak memiliki pengetahuan yang
cukup, sehingga tidak tahu cara melakukan perlawanan. Situasi inilah
yang memacu individu yang terdidik dan mempunyai kepedulian, muncul
menjadi pemimpin. Konsep lahirnya pemimpin ini sesuai filosofi ayam
jantan yang ditulis Egmond Rostand dan dikutip Hatta dalam
Berjuang dan Dibuang
(2011:108) yang berbunyi: “Hari mulai siang bukan karena ayam berkokok,
melainkan ayam berkokok karena hari mulai siang”. Rakyat bergerak
melawan kesewenang-wenangan bukan karena dihasut oleh pemimpin.
Pergerakan rakyat timbul bukan karena ada pemimpin yang bersuara,
melainkan pemimpin bersuara karena ada pergerakan atau karena ada
perasaan dalam hati rakyat yang tidak keluar tetapi terus bergejolak.
Lebih
lanjut Hatta mengatakan, pekerjaan pemimpin sebenarnya tidak lain dari
memberikan jalan dan mengalirkan apa yang hidup dalam hati rakyat.
Semangat dan perasaan rakyat ditimbulkan oleh keadaan dan penghidupannya
sendiri. Pada satu tempat dan waktu semangat dan perasaan rakyat itu
muncul keluar dengan hampir tidak dijuluk, pada tempat lain lagi ia
berjalan seperti api makan sekam. berkobar-kobar ke dalam tetapi tidak
dapat keluar. Inilah yang sering bahaya bagi ketenteraman umum dan
disinilah ternyata beratnya tanggungan pemimpin.
Pernyataan
Hatta menjadi pelajaran berharga untuk diikuti dan diteladani para
pemimpin pemerintahan maupun para politisi. Pemimpin itu harus bisa
menangkap apa yang terjadi atau berkembang dan keinginan –bahkan bisa
jadi jeritan—rakyatnya. Aspirasi itu disalurkan kepada pihak-pihak
terkait atau bahkan dilaksanakan sesuai dengan tanggung jawab dan
wewenang para pemimpin (pejabat) tersebut. Dalam bahasa Hatta, pemimpin
itu wajib menduga apa yang terasa oleh rakyat dalam hatinya dan segala
perasaan yang tertutup. Menurut Nabi Muhammad SAW dalam John Adair
(2010:46), dalam perjalanannya, pemimpin suatu kaum adalah pelayan
kaumnya.
Andai saja pemimpin (pejabat) pemerintahan atau
politisi di negeri ini bisa melakukan apa yang dikatakan oleh Hatta,
maka Salim Kancil yang menentang perusakan lingkungan di Selok
Awar-Awar, Lumajang, bisa jadi tidak akan tewas disiksa preman suruhan
kepala desa pada akhir September 2015. Andai saja para pemimpin, pejabat
di daerah mendengar dan menangkap kerasahan warga, maka kerusuhan
berbau SARA di Kabupaten Aceh Singkil pada Selasa (13/10/2015) bisa
dihindarkan. Demo buruh, protes warga, demo pedagang kaki lima terjadi
antara lain karena ketidakmampuan pemimpin mendengar jeritan mereka.
Para
pemimpin pemerintahan sekarang ini jangankan menangkap suara-suara
rakyat baik yang keluar maupun yang tidak keluar, janji yang sudah
terucap pun sering diingkari. Janjinya akan membuat kebijakan yang
prorakyat kecil, dipenuhi dengan menaikkan harga bahan bakar minyak
(BBM) ketika harga BBM dunia menurun. Janji merampingkan struktur
organisasi, yang terjadi malah munculnya lembaga-lembaga baru. Janji
memberikan layanan angkutan umum yang baik, dijawab dengan menaikkan
tariff jalan tol. Perbaikan ekonomi, yang dirasakan dan terjadi nilai
rupiah makin terpuruk.
Janjinya membangun pemerintahan yang
bersih dan memperkuat lembaga antikorupsi, tetapi yang terjadi pimpinan
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikriminalkan dan muncul dana
aspirasi Rp 20 miliar per anggota dewan. Praktik korupsi di kalangan
pejabat pemerintahan tidak hanya dilakukan oleh pejabat serta kroni,
tetapi sudah melibatkan keluarga inti, seperti anak, saudara, dan istri.
Ingat
kasus korupsi pengadaan Al Quran di Kementerian Agama yang menyeret
anggota DPR dan anaknya. Jangan lupa kasus suap pilkada dengan tersangka
Wali Kota Palembang dan istri. Dan yang masih dalam penanganan KPK
adalah kasus penyelewengan dana hibah dan suap yang diduga dilakukan
oleh Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dan dan istrinya, Evy
Susanti.
Andai saja Hatta masih hidup, bisa jadi dia akan
menangis melihat perilaku korup pemimpin negeri yang ia perjuangkan
bahkan sampai mengorbankan kepentingan pribadinya –Hatta menikahi Rachmi
Rachim 8 November 1945 karena ia berjanji baru menikah setelah
Indonesia merdeka. Simak kritik tajam Hatta terhadap Soekarno saat yang
bersangkutan ditangkap dan kemudian menyatakan keluar dari Partai
Indonesia (Partindo) yang ia dirikan.
Saat itu, muncul informasi
sikap Soekarno tersebut karena pengaruh istrinya, Inggit. Tetapi, apa
pun penyebabnya, Hatta tetap menyalahkan Bung Karno sebagai seorang
pemimpin yang ia sebut tak berkarakter. Dengan tegas Bung Hatta
(2011:124) mengatakan, “Bukan pemimpin kalau masih terpengaruh oleh air
mata istri yang tak tahan hidup melarat.”
Saat ini, bisa dikata
tak ada lagi para pemimpin negeri ini dan istrinya yang hidup melarat.
Mereka sudah sangat berkecukupan jika diukur dari kebutuhan hidup
sandang, pangan, papan, dan status sosial. Tetapi sikap rakus dan kurang
bersyukur itulah yang membuat mereka terus menumpuk harta dan/untuk
melanggengkan kekuasaan sehingga sampai hati merampok uang rakyat. Dalam
pandangan Prof Djohermansyah Djohan, kepemimpinan yang baik adalah
kepemimpinan yang bermoral dan kompeten, karena seseorang bisa menjadi
pemimpin yang kompeten tapi tidak bermoral. Pemimpin korup tentu
bukanlah pemimpin yang bermoral.
Mendidik pengikut
Kebiasaan
menulis, khususnya di media massa, Hatta lakukan ketika masih duduk di
sekolah menengah di Jakarta. Saat ia menempuh pendidikan di Belanda,
tulisan-tulisannya baik tentang ekonomi, politik, pegerakan, sosial,
bahkan filsafat, semakin berkembang. Dia menjadi kolomnis sejumlah
majalah di Indonesia dan juga mengasuh majalah di Belanda, yakni Poetra
Hindia yang kemudian berubah menjadi Indonesia Merdeka.
Menulis
adalah salah satu sarana bagi Hatta untuk mengasah tingkat
intelektualitasnya, menyuarakan kemerdekaan Indonesia, melakukan
perlawanan terhadap penjajah, serta mendidik rakyat dan kemudian
mendidik kader atau pengikutnya di partai Pendidikan Nasional Indonesia
(PNI) baru. Dalam kaitan mendidik kader ini, ia lakukan mulai tahun 1930
ketika Soekarno ditangkap dan kemudian keluar dari PNI lama. Saat itu,
Hatta yang masih berada di Belanda melakukan korespondensi dengan
Sudjadi, tokoh PNI yang kecewa dengan sikap Bung Karno, untuk
menerbitkan majalah
Daulat Ra’yat.
Menurut Hatta,
“Daulat Ra’yat bukanlah majalah untuk beragitasi, tetapi majalah untuk
mendidik.” Hatta memang menggunakan majalah ini untuk mendidik kader
partai dan juga mencerahkan rakyat. Soal pendidikan kader ini, ia sangat
ketat. Dia tak akan menyetujui sembarang orang menjadi anggota partai
dan kemudian mendirikan cabang, sebelum mengikuti pendidikan dan
mengetahui perjuangan partai. Sikap itu sesuai konsep kepemimpinan dan
kepengikutan (
leadership dan
followership) yang
diyakini.
Menurutnya, pergerakan memperjuangkan kemerdekaan tak boleh
tinggal pergerakan pemimpin, yang hidup dan mati dengan pemimpin itu.
Akan tetapi, pergerakan harus menumbuhkan para pengikut yang banyak
sehingga menjadi pergerakan ‘pahlawan-pahlawan yang tak punya nama’.
Artinya pergerakan rakyat sendiri, yang tidak tergantung kepada nasibnya
pemimpin. Untuk itulah, ia harus mendidik para pengikut, rakyat, atau
kader partai, agar kelak siap menjadi pemimpin.
Hasil menciptakan
good follower
(pengikut yang baik) ini ia tuai ketika dipenjara oleh Pemerintah
Hindia Belanda pada 25 Februari 1934. Meski dia, Sjahrir, dan Bondan
yang merupakan tokoh PNI dan
Daulat Ra’yat dipenjara, PNI tetap berjalan dan
Daulat Ra’yat tetap terbit.
“Sejak
aku dikunjungi sekali seminggu oleh kakakku Rafiah dan iparku, aku
senantiasa mendengar kabar yang baik bahwa PNI terus bergerak dan Daulat
Ra’yat terus terbit. Berbeda dengan Partindo, begitu pemimpinnya
ditahan, lenyap juga partai dan majalahnya. Di PNI dan Daulat Ra’yat,
ada saja pemimpin baru yang meneruskan usaha,” ujar Hatta dalam
Berjuang dan Dibuang (2011:136).
Konsep
Hatta dalam mendidik para pengikut itu menunjukkan bahwa ia adalah
seorang pemimpin yang memiliki gaya transformasional. James Mcgregor
Burns dalam Vugt dan Ahuja (2015:50) mengatakan, kepemimpinan
transformasional mengubah pengikut menjadi pemimpin dan bisa mengubah
pemimpin menjadi agen moral. Ada aliran gagasan dan impian di antara
pemimpin dan pengikut demi kemaslahatan bersama.
Dan apa yang
dilakukan Hatta, khususnya dalam mendidik rakyat serta anggota partai
baik melalui rapat atau pertemuan-pertemuan langsung maupun melalui
majalah/surat kabar, telah mampu menciptakan pemimpin-pemimpin baru.
Sehingga, ketika ia ditangkap dan kemudian dibuang ke Boven Digul,
Papua, lalu dipindah ke Banda Neira, Maluku, serta kemudian ke Sukabumi,
Jawa Barat, partai dan majalahnya tetap jalan. Di Boven Digul pun dia
membuka kelas khusus seminggu dua kali untuk mendidik kader-kader PNI
yang dibuang, seperti Boerhanuddin, Bondan, dan Suka. Ketika dibuang ke
Banda Neira, dia bahkan membuka kelas khusus untuk mendidik anak-anak
Tjipto Mangoenkoesoemo serta anak saudaranya yang dikirim dari Jawa.
Hatta
memang pemimpin besar. Pemikiran-pemikirannya terus berkembang dan
tetap kontekstual. Sebagai pemimpin hebat, Hatta tidak hanya dilahirkan
pada zamannya, tetapi juga mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru.
Inilah The Great Leader. (Suprapto)