Rabu, 10 Oktober 2012

Bebas Stroke Berkat Gowes

Djoko (jongkok pakai helm) bergaya di atas kapal

-->
SELAIN diikuti oleh lima penggowes perempuan atau biasa disebut Srikandi sepeda, Jelajah Sepeda Kompas Bali-Komodo yang berlangsung 18-24 September 2012 juga diikuti oleh sejumlah pesepeda gaek. Meski demikian, mereka tidak kalah oke dibandingkan goweser lain.

     Daeng (64) celana hitam
Salah satu goweser sepuh itu adalah Tjahjadi. Meski sudah berusia 64 tahun, peseda asal Surabaya, Jawa Timur, ini termasuk yang jago ditanjakan. Ketika goweser lain dengkulnya mulai cenat cenut,  napas ngos-ngosan, dan kecepatannya terus menurun, bahkan terkadang dibantu didorong oleh motoris, Tjahjadi tetap stabil. Sehingga, jangan heran ketika di tanjakan, sering kali dia menyodok ke depan, meninggalkan beberapa pesepeda lain.
"Kalau di jalan datar, biarin aja anak-anak muda di depan. Di tanjakan baru saya yang maju," ujar pensiunan guru olahraga ini.
Apa tip Daeng, panggilan Tjahjadi, yang jago tanjakan meski usia paling tua di antara peserta lain? "Kita harus lihat tingkat kemiringan tanjakan, gir juga pakai yang nomor 1, 2, dan 3 aja. Selain itu, tangan dan badan kita juga harus menyesuaikan irama kaki," ujar mantan pebalap dan pelatih sepeda ini memberi tip.
Jalan Trans Sumbawa
Semula, ia menjelaskan secara teori, termasuk menghitung tingkat kemiringan, gravitasi, dan jumlah gigi sepeda. Karena terlalu njelimet, saya  minta kiat yang mudah. Saya nggak kebayang kalau harus menghitung rumus gravitasi, putaran roda, jumlah gir, dan lain sebagainya ketika mengayuh di tanjakan.  Dan, terapis penderita stroke --yang menyarankan pasiennya bersepeda supaya terbebas dari stoke-- ini pun memberikan tip singkat tadi.
Go Suhartono (kiri) berfoto bersama wapemred Kompas
Goweser sepuh lainnya yang tak kalah kuatnya, baik di jalan datar maupun tanjakan adalah Djoko (57) dan Go Suhartono (64). Joko yang asal Jakarta dan Go Suhartono yang asal Surabaya mengaku secara rutin bersepeda. 
        
"Saya hampir setiap hari gowes keliling Surabaya. Kadang-kadang, sehari bisa 150 km. Kadang sama teman-teman juga turing, misalnya  ke Yogyakarta atau daerah lain," ujar Pak Go, sapaan untuk Go Suhartono.
Djoko malah mengaku sering turin ke sejumlah wilayah, seperi Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, dan tur Bali Bike (14-16 September). Beberapa minggu lalu, dia dan para goweser lainnya baru saja menjelajah ranah Minang lewat ajang Padang Audax.
Seperti biasa, meski sudah gaek, peseda yang satu ini memang senang narsis. Sehingga, ia pun mengirimkan foto-fotonya. Termasuk foto ketika ia tertidur di emperan. “Ini foto setelah naik kelok 44,” ujarnya lewat blackberry messenger.
Meski mereka telah ber-KTP ‘seumuer hidup’, sikap dan perilakunya tetap asyik. Diajak ngobrol oke. Bercanda juga hayuk.  
Karena rajin bersepeda, para 'manula' itu juga tetap enerjik, bebas stroke, sehat, dan murah senyum serta humoris. Mereka terlihat lebih muda dari usianya. Itulah manfaat lain bersepeda. Siapa mau mencoba. 

**pro.suprapto**
Palmerah, 11102012
Salah satu rute yang dilewati jelajah Bali-Komodo di Pulau Sumbawa





Selasa, 02 Oktober 2012

Jelajah Bali-Komodo: Kebersamaan dan Kepuasan Bersepeda


wartakotalive.com -->




TIBA-TIBA saya ingat Pak Djoko. Orang terkadang mengenalnya sebagai Djoko Merlin. Di BB-nya juga dia menulis sebagai Djoko Merlin. Bisa jadi dia dikenal dg 'Merlin' di belekang namanya krn sering pakai sepeda merek Merlin. Djoko mengaku membeli sepeda itu di atas Rp 20 jt. Wuihh.
Saya bukan mau ngomongin  sepedanya. Saya justru tertarik dan sering  ingat dengan kelakuannya. Juga dengan semangatnya. Bayangkan! Meski usianya 57 tahun, dia tetap suka bercanda dan bersemangat ketika sebagian penggowes sdg ngos-ngosan di tanjakan. Dia sering mendahului d
ari sisi kanan  ketika peserta jelajah sedang 'menurunkan' kecepatan di jalan mendaki.  Saat itu biasanya dia melontarkan omongan, "Mana suaranya." Kesannya meledek, tapi sesungguhnya --paling tdk dalam pandangan saya-- itu adalah pelecut semangat.
Saya juga ingat omongannya ketika jamuan makan malam sebagai tanda berakhirnya jelajah Bali-Komodo  di Hotel Jayakarta, Labuan Bajo, Senin (24/9). Pertama dia memuji teman
-teman KGC yang kompak dan oke-oke. Kedua dia bilang, tentang kebersamaan. "Mungkin akan lebih pas kalau peseda yg kuat di tanjakan, tetap mendampingi peseda lain yg kurang kuat. Sehingga, mereka tetap semangat dan tidak merasa ditinggal," katanya.
Ketika ada tem
an peseda lain --yang kebetulan tidak ikut jelajah Bali-Komodo tetapi hadir di Hotel Jayakarta--  mendengarnya, dia berujar, "Kalau begitu, bisa mengurangi akselerasi peseda yg kuat. Dia bisa down."
Mungkin karena tak enak berbeda pendapat, begitu tem
an itu pergi mengambil makanan, Djoko kembali berpendapat bahwa kehilangan akselerasi atau tidak tergantung kemampuan dan mental peseda. "Buktinya ada yang lebih kuat gowes, toh dia tetap bisa bersepeda dalam kebersamaan," katanya.
Saya yang mendengar dan terlibat dalam pembicaraan itu ngebatin, dua pendapat itu sama benar. Tergantung dari mana kita melihat dan dalam konteks seperti apa. Yang penting adalah kebersamaan tetap tercipta dan peseda yang punya energi lebih pun tidak kehilangan akselerasinya hanya karena ada teman peseda lain yang lamban jalannya. "Saya puas, setelah tanjakan Wawo, Bima, sampai pelabuhan Sape saya kebut terus. Saya bertiga dengan Dede dan satu peseda dari Bali saling kebut," ujar Bakti, peseda dari Komunitas Cihuni.
Dalam Jelajah Bali-Komodo saya lihat kebersamaan itu tak menghilangkan kemampuan akselerasi
beberapa peseda. Keduanya bisa berjalan beriringan.  Kondisi inilah yang menambah kekuatan dan semangat bagi para peseda sehingga bisa menyelesaikan jelajah sepanjang 650-an km itu tanpa ada kendala berarti.  Selamat menggowes!!!
 **pro**
Palmerah,  02102012

Sabtu, 25 Agustus 2012

Rp 400.000 untuk Kunjungi Alcatraz Indonesia


BAGI sebagian besar masyarakat Indonesia, Nusakambangan dikenal sebagai tempat yang menjeramkan. Di sinilah penjara untuk penjahat kelas kakap. Para narapidana kasus pembunuhan berencana, pembunuhan berantai, teroris, koruptor, sampai bandar narkoba ada di pulau yang membentang di selatan Pulau Jawa dan terletak di Kabupaten Cilacap ini. Pemerintah Belanda ketika menjajah Indonesia menjadikan pulau ini sebagai pulau penjara sehingga penguasaannya sampai kini masih di bawah Kementerian Hukum dan HakAsasi Manusia.
Selama ini ada sebutan yang salah kaprah, yakni tentang istilah Penjara (atau Lembaga PemasyarakatanNusakambangan. Sesungguhnya, nama lembaga pemasyarakatan (LP) itu tidak ada. Dulu, di pulau yang memiliki luas 121 kilometer persegi itu terdapat sembilan LP. Tetapi, kini tinggal tujuh LP, yaitu LP Batu, LP Kembang Kuning, LP Narkoba, LP Terbuka, LP Permisan, LP Besi, dan LP Pasir Putih.
Dari tujuh LP itu, hanya satu LP yang dibangun di era reformasi, yakni LP Pasir Putih. LP dengan pendapatan super maximum security ini terletak di ujung barat/selatan Pulau Nusambangan, di dekat Pantai Pasir Putih. Pantai yang langsung berhadapan dengan laut lepas (Samudera Indonesia) ini adalah tempat pembaretan atau pelantikan anggota Kopassus TNI AD setelah dinyatakan lulus pendidikan dasar.
Tahun 2004, penulis mengunjungi LP ini ketika dalam tahap pembangunan. Di dekat LP itu terdapat LP Permisan (tertua, dibangun 1908). Beberapa LP lain, seperti LP Batu dibangun 1929 dan LP Kembang Kuning 1950. LP Terbuka hanya diperuntukkan bagi para napi yang sudah menjalani masa hukuman lebih dari 2/3 dan dinyatakan ‘jinak’. Para napi itulah yang dibolehkan berjualan batu cincin hasil kerajinan napi kepada para pengunjung Pulau Nusakambangan.
Salah seorang kepala LP kepada penulis beberapa waktu lalu mengatakan, pendekatan yang dilakukan di LP yang ada di Nusakambangan pada umumnya pendapatan keamanan. Hal ini karena para napi yang dikirim ke LP di pulau ini pada umumnya adalah napi-napi ‘juara’ dari sejumlah LP kelas satu, seperti LP Cirebon, LP Cipinang, dan sejumlah LP di Pulau Sumatera. Karena itu, mereka itu ‘dinyatakan’ tak lagi mempan menggunakan pendepatan yang lebih ‘santun’.
Untuk mengunjungi pulau yang juga dijuluki sebagai Alcatraz-nya Indonesia itu tidaklah mudah. Harus jelas maksud dan tujuannya dan harus pula memiliki izin tertulis dari Menteri Hukum dan HAM melalui Direktorat Jenderal Lembaga Pemasyarakatan. Izin tertulis itu pun harus ditembuskan kepada petugas LP di Pelabuhan  Sodong, pelabuhan khusus yang dioperasikan oleh Ditjen Lapas Kemenhum dan HAM.
Hanya melalui pelabuhan inilah keluar masuk para napi dan keluarga serta tamu lain yang akan berkunjung ke sejumlah LP hingga ke Pantai Pasir Putih. Ada beberapa pelabuhan lain yang dikuasai Pertamina, perusahaan semen, dan pelabuhan untuk mendarat perahu-perahu kecil untuk pariwisata yang terletak di sisi utara/timur Pulau Nusakambangan.
Pulau Alcatraz adalah sebuah pulau yang terletak di tengah Teluk San Francisco di California, Amerika Serikat. Dulu, Alcatraz merupakan benteng pertahanan militer dan kemudian dijadikan penjara super maximum security. Kini pulau ini menjadi situs sejarah yang dikelola oleh Dinas Pertamanan Nasional AS sebagai Tempat Rekreasi Nasional Golden Gate dan dibuka untuk wisatawan.
Apakah tidak ada cara khusus untuk menyeberang ke Nusakambangan dengan membawa mobil melalui Pelabuhan Sodong? Pada Lebaran 1433 H ini, Ditjen Lapas memberikan kemudahan bagi masyarakat umum yang ingin berwisata ke Pantai Pasir Putih. Caranya, sediakan uang Rp 400.000 untuk satu mobil berikut isinya.
“Jadi sistem paket Pak. Satu mobil bayar Rp 400.000 untuk ongkos penyeberangan pulang balik. Di sana bisa melihat beberapa tempat wisata, paling terkenal Pantai Pasir Putih,” ujar seorang petugas penyeberangan.  Bagi keluarga napi, katanya, gratis. Tetapi, penulis melihat beberapa di antara mereka memberikan amplop ketika meninggalkan pelabuhan itu seusai membesuk keluarga.
Kebijakan wisata Pulau Nusakambangan itu berlaku sejak Lebaran hingga seminggu ke depan atau Minggu (26/8). Jadwal keberangkatan kapal paling pagi dari Pelabuhan Sodong sekitar pukul 08.00 dan jadwal kembali paling terakhir pukul 18.30. Jalan yang membentang dari pelabuhan hingga ke Pantai Pasir Putih diaspal hotmik. Waktu tempat sekitar 30 menit.
Pihak pengelola LP di Pulau Nusakambangan tidak menyediakan kendaraan bagi para wisatawan. Karena itu, hanya wisatawan yang bermobil yang bisa berkunjung atau melihat dari sisi luar penjara-penjara tersebut. “Kendaraan hanya untuk keluarga napi,” ujar petugas tersebut.
Silakan yang ingin menikmati Pantai Pasir Putih dan melihat penjara tempat Amrozi dan Imam Samudera serta Tommy Soeharto dipenjara.
Palmerah, 25082012
**pro**

Kamis, 16 Agustus 2012

Merdeka Itu Ya Mudik!








BANYAK cara memaknai kemerdekaan. Tak sedikit pula kiat menjelaskan arti kemerdekaan. Tak ada yang salah. Begitu pun tak ada yang bisa mengklaim pendapatnyalah yang paling benar dan kontekstual. Semua tergantung siapa dan dari sudut mana dalam melihat kemerdekaan itu sendiri.  Tentu juga tergantung dengan kondisi dan posisinya saat ini.
Di sudut-sudut jalan di Jakarta kini bertebaran spanduk berisi tentang pemaknaan Kemerdekaan Ke-67 RI. Di sejumlah media massa, para politisi dan pimpinan berbagai organisasi beriklan atau berkomentar hal serupa.  Di berbagai pertemuan, para tokoh masyarakat berbicara dan mencoba mengaitkan kebebesan, kemerdekaan, Ramadan, dan Idul Fitri.
Sebuah spanduk yang dipasang oleh salah satu partai politik (parpol) mencoba mengaitkan kemerdekaan dengan Lebaran. “Kemerdekaan adalah Fitrah Manusia.” Demikian tulisan di spanduk itu. Ada juga yang mencoba mengartikan kemerdekaan dengan kerja keras, kemerdekaan adalah hak manusia yang paling hakiki, sampai pada berkesimpulan, kemerdekaan dalam kaitan bulan Ramadan bermakna kemerdekaan dari kendali hawa nafsu dan diperalatan oleh bisik-bisik syetan.
Sekali lagi, semua itu boleh-boleh saja. Tetapi, adakah yang berpikir dan berpendapat lain? Simak arti kemerdekaan yang diungkapkan dan diekspresikan oleh Wiwi (19). Perempuan pekerja rumah tangga  ini mengartikan kemerdekaan kali ini adalah bisa mudik Lebaran lebih cepat. Tahun-tahun sebelumnya, ia baru diizinkan pulang kampung oleh majikan di tempatnya bekerja tiga hari sampai seminggu sebelum Hari Raya. Kebiasaan itu sudah berjalan paling tidak dua tahun. Tetapi, kali ini, ia pulang ke kampungnya di Cilacap, Jawa Tengah, 15 hari sebelum Idul Fitri.
“Enak. Bisa santai dan puas main sama temen-temen  di kampung,” ujarnya memberi alasan. Meski diizinkan mudik lebih cepat, hak yang ia dapat tidak berkurang, bahkan sedikit lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Ia tetap memperoleh satu bulan Tunjangan Hari Raya (THR), gaji bulanan, uang transport dari sang nyonya dan ditambahi pula oleh sang tuan, biskuit dan sirop untuk berlebaran, serta kue dan makanan untuk berbuka puasa dalam perjalanan.
Tak lupa, ia juga membawa satu tas tangan berisi peralatan make up, sabun, dan dompet, satu ransel berisi pakaian, satu kardus untuk sepatu dan sandal-sandal, dan handuk , serta dua kaleng biskuit dan tiga botol sirop yang dibiarkan dibungkus tas plastik (kresek) bermerek sebuah pusat perbelanjaan.  Tak ketinggalan, dua handphone (HP) kaya fitur mirip smart HP merek kenamaan. Tapi, HP si Mbak ini buatan lokal. Meski demikian, alat komunikasi itu tak hanya bisa digunakan untuk menelepon dan kirim SMS, tetapi juga untuk mendengarkan musik, memotret, serta tersedia berbagai fasilitas internet dan media sosial. Untuk yang terakhir, Wiwi masih mengaku ‘gaptek’ alias gagap teknologi.
Berbekal itu semua serta dengan berpakaian kaos dan celana ketat serta sepatu kets berwarna pink, Wiwi benar-benar menikmati arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Begitu sampai di terminal bus, meski berdesak-desakan, dia tetap happy dan  merdeka yang sesungguhnya. Bila selama ini, ketika sedang bekerja, ia selalu menerima perintah, kali ini ia berperan sebaliknya. Jari telunjuk yang selama ini bisa dibilang tak pernah digunakan, sekarang ia manfaatkan untuk menunjuk barang bawaannya. Kepada kernet bus, dia menyuruhnya untuk membawakan tas dan kardus.
Apa yang dirasakaan Wiwi pada umumnya juga dirasakan oleh para perempuan lain yang  bekerja di perumahan (PRT). Begitu tiba di terminal, stasiun, atau pelabuhan dan bertemu dengan teman-teman sekampungnya, mereka benar-benar merasakan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Sekaranglah saatnya mereka ganti peran menjadi ‘majikan’. Mereka bisa menyuruh atau meminta tolong kepada tukang kuli panggul, petugas porter, kernet bus, atau calo angkutan untuk membantu mengurus keperluannya; bisa mengangkat barang, menunjukkan tempat duduk, atau lainnya.
Mereka tak mau dipusingkan oleh perdebatan  para politisi, pejabat, tokoh masyarkat, pimpinan organisasi, atau para aktivis lembaga swadya masyarakat tentang arti dan makna setiap tujuh belas Agustus. Kebebasan atau kemerdekaan yang sesungguhnya  hanya  mereka rasakan setahun sekali, ketika mudik Lebaran! Di luar itu, mereka seperti selalu dalam pengawasan. Karena itu, saya sangat prihatin jika masih saja ada pejabat yang ketika mengunjungi terminal atau stasiun berbicara, “Kenapa sih mau bersusah-susah, berdesak-desakan di angkutan umum, atau mengeluarkan uang banyak setiap tahun untuk mudik?” Pejabat seperti ini hanya melihat sesuatu dari posisinya yang mungkin setiap saat bisa bepergian ke mana saja dengan anggaran negara.  Dia mesti belajar ‘bisa merasa’ bukan hanya ‘merasa bisa’
Ini cerita kemerdekaan ku, apa ceritamu?
**pro**
Palmerah, 16082012

Minggu, 22 Juli 2012

Betawi Tak Seloyal Tionghoa



-->
Saya tak bermaksud memprovokasi salah satu etnis. Tetapi, jika melihat hasil exit poll (survey yang dilakukan setelah Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2012), bisa dikatakan, etnis Betawi tak seloyal etnis Tionghoa dalam mendukung jagoannya. Bukti konkret adalah pasangan asli Betawi, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli hanya didukung oleh separuh warga asli Jakarta itu. Pasangan campuran Jawa-Tionghoa, yakni Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama,  didukung oleh hampir semua warga Jakarta beretnis Tionghoa.
Exit poll yang dilakukan Kompas pada 11 Juli 2012 menunjukkan, Foke-Nara –julukan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli—hanya didukung oleh 58,5 persen warga Betawi. Padahal, pasangan ini adalah pasangan yang didukung secara penuh oleh berbagai ormas dan elemen masyarakat Betawi. Sejumlah ormas Betawi yang sudah cukup dikenal, seperti Forkabi, Forum Betawu Rempug, Bamus Betawi, Permata Jakarta, Pemuda Betawi, dan yang baru dibentuk menjelang pilgub, seperti Front Betawi Bersatu (FBB), berada di belakang pasangan ini.
Berdasarkan data dari petugas di Sekretariat Tim Sukses Foke-Nara, Dipo 61, di Jalan Diponegoro No 61, Menteng, Jakarta Pusat, sekitar 250 ormas berada di belakang pasangan Foke-Nara. Sebagian ormas-ormas itu adalah mereka yang mengatasnamakan Betawi, Jakarta, nama-nama kawasan di Jakarta, atau nama yang identik dengan Fauzi Bowo. Para pemimpin ormas itu pada umumnya mengaku asli Betawi atau warga Jakarta. Beberapa nama ormas itu –selain yang telah disebut di atas-- adalah Persatuan Orang Betawi, Barisan Jakarta, Forum Matahari Jakarta, Brigade Anak Jakarta, Eef Bee One, Lembaga Macan Kemayoran, dan BeCeng (Betawi Cengkareng).
Branding Foke-Nara sebagai calon Betawi tidak hanya ditunjukkan oleh para pendukungnya, tetapi juga oleh atribut mereka. Misalnya saja, pakaian yang dikenakan, baik saat mendaftarkan diri sebagai pasangan calon pada 19 Maret 2012 malam, yang terpasang di sejumlah billboard, poster, dan spanduk, serta foto yang tercantum dalam surat suara, menunjukkan kebetawian pasangan ini. Beberapa artis pendukung dalam kampanye juga asli Betawi seperti Jaja Miharja. Bahkan, mantan Wakil Ketua Golkar DKI Jakarta Agus Zakaria mengaku rela dipecat dari kepengerusan partai ini ketimbang mengkhianati saudara Betawinya, Foke-Nara. Dalam setiap kampanye, beberapa lagu yang dinyanyikan pun berdialek Betawi. Bahkan, bahasa kampanyenya sering menggunakan bahasa Betawi.

Tetapi, hasil exit poll yang dirilis Harian Kompas pada 13 Juli 2012 menunjukkan, pasangan Foke-Nara hanya meraih dukungan 58,5 persen dari etnis Betawi. Pasangan nomor 2, yakni Hendardji- A Riza Patria mendapat dukungan 3,5 persen, Joko Widodo-Basuki 21,8 persen, Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini 9,2 persen, Faisal Basri Batubara-Biem Benjamin 4,4 persen, dan Alex Noerdin-Nono Sampono 2,6 persen. Dengan demikian, Joko-Basuki mampu meraih simpati dari masyarakat Betawi terbesar kedua  setelah Foke-Nara.
Sebenarnya, ketidakkompakan tokoh etnis Betawi dalam mendukung pasangan calon sudah bisa dirasakan jauh sebelum pemungutan suara. Tokoh dan budayawan Betawi, Ridwan Saidi, adalah salah satu di antaranya yang paling getol menyuarakan penolakan terhadap Foke-Nara. "Pasangan Foke-Nachrowi bagi saya paling ancur. Kredibilitas dan kemampuannya memimpin, gagal membawa Ibu Kota lebih baik. Pasangan ini malah yang akan memperoleh suara rendah alias kalah," ujar Ridwan Saidi kepada wartawan, Jum'at (13/4/2012) seperti dikutip www.tribunnews.com.
Seorang ulama asli Betawi yang cukup terkenal dari Jakarta Timur yang digandeng oleh Ketua PWNU DKI Jakarta, Djan Faridz, dan para habaib dari kawasan Condet,  juga mendukung Joko Widodo-Basuki. Beberapa masyarakat asli Betawi di Kelurahan Kamal, Kalideres, Jakarta Barat, malah menjadi saksi untuk pasangan yang diusung oleh PDIP dan Gerindra ini. “Di beberapa TPS di Kamal, saksi Jokowi-Ahok asli Betawi,” ujar seorang pengurus PDIP Kecamatan Kalideres. Dia mengatakan, mereka mendukung Jokowi-Ahok karena kedekatan dan pendekatan yang dilakukannya.
Bisa jadi karena faktor itu sehingga suara Betawi pecah. Di samping itu, kalau kita kaji asal usul etnis ini, ternyata bukanlah ‘pemilik’ asli Jakarta. Jauh sebelum Betawi ada, Jakarta (Batavia) sudah ditempati oleh orang dari berbagai suku bangsa, seperti Sunda, Jawa,  Bugis, Makassar, Ambon, Melayu, dan Bali. Dalam buku pengantar pameran bertajuk “Betawi Punye Gaye” hasil kerja sama Bentara Budaya Jakarta (BBJ) dan Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI) disebutkan, Betawi ibarat gado-gado yang lahir dari berbagai macam suku bangsa (baca: Penduduk Asli Jakarta Bukan Cuma Betawi)
Antropolog Universitas Indonesia, Dr Yasmine Zaki Shahab MA memperkirakan, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, sekitar tahun 1815-1893. Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Castle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi (www.wikipedia.org).
Karena asal usulnya yang ‘gado-gado’ itu membuat suku Betawi memiliki sifat yang lebih terbuka, berjiwa sosial –meskit erkadang cenderung tendensius-- dan menghargai plurarisme. Meski sebagian besar etnis Betawi Bergama Islam, sebagian lainnya ada juga yang beragama Kristen Protestan dan Katolik. Bisa jadi, kondisi itu pula yang memengaruhi perilaku politik mereka dalam Pilgub DKI 2012 ini.
Bagaimana dengan etnis Tionghoa? Dukungan mayoritas diberikan etnis ini kepada Joko Widodo-Basuki atau yang dikenal sebagai pasangan Jokowi-Ahok. Pasangan ini hampir menyapu bersih pemilih Tionghoa di Jakarta, dengan meraih dukungan 92,7 persen. Sisa warga Tionghoa sebanyak 7,3 persen menyalurkan aspirasi politiknya dengan memilih Foke-Nara. Empat pasangan lainnya sama sekali tak meraih dukungan yang siginifikan dari etnis yang berdasarakan Sensus Penduduk tahun 2000 BPS mencapai 5,52 persen dari penduduk Jakarta ini. 
Kalau kita cermati melalui pemberitaan, kampanye, maupun gerakan yang dilakukan oleh pasangan ini, dukungan dari warga Tionghoa tak segerlap dukungan etnis Betawi terhadap Foke-Nara. Tetapi, harus diakui bahwa tidak ada –atau tidak terdengar-- tokoh Tionghoa yang menolak Ahok yang secara terus menerus bicara melalui media.
Dukungan menonjol terhadap Ahok sebenarnya hanya diberikan oleh Persatuan Tionghoa Raya (Petir) –yang sebagian pengurusnya juga anggota Partai Gerindra. Dukungan itu diberikan Petir saat bertemu dengan Ahok dalam pertemuan yang berlangsung 12 April 2012 di Jakarta. Saat itu, Ahok pun mengaku tidak suka dengan istilah pribumi dan nonpribumi.
"Saya Indonesia asli. Sejujurnya saya tidak suka memakai istilah pribumi dan nonpribumi. Jangan lihat warna kulit, tetapi lihat karakternya. Saya menjadi pejabat, itu memperjuangkan semua suku yang ada di Jakarta. Mau Melayu, Tionghoa, atau Betawi," ujar Ahok, seperti dikutip oleh www.tribunnews.com Rabu (11/4/2012).
Mengenai loyalitas etnis Tionghoa dalam mendukung Jokowi-Ahok,  tidak tertutup kemungkinan ini adalah bentuk dari luapan sikap tertekan mereka selama ini. Seperti kita ketahui, pada masa Orde Baru, etnis ni banyak diperlakukan diskriminatif, terutama di bidang politik dan sosial budaya. Mereka lebih banyak diarahkan untuk masuk ke bidang ekonomi. Karena itu, begitu ada di antara mereka yang berpeluang  masuk ke dunia politik, mereka pun menjadi merasa senasib untuk sama-sama memperjuangkan calon tersebut.
Seorang ketua RW di sebuah kompleks perumahan di daerah Jakarta Barat mengaku bahwa sebagian besar warganya memang memilih pasangan Jokowi-Ahok. “Faktor Ahok sangat berpengaruh sekali. Kalau Jokowi sih tidak terlalu dilihat,” ujar ketua RW yang sebagian besar warganya beretnis Tionghoa. Dia tak mau menjelaskan secara detail alasan dukungan warganya terhadap Ahok tersebut.
Prof Nurul Aini, dosen di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), mengatakan, ada empat faktor yang memengaruhi pemilih, yaitu program kandidat, parpol kandidat, orientasi kandidat itu sendiri, serta birorkat. Faktor etnis dan agama masuk dalam orientasi kandidat.
Tetapi, penelitian yang dilakukan William Liddle dan Saiful Mujani pada 2003 dan 2007 sebagaimana dikutip dari Kajian Bulanan Edisi 9 Januari 2008 Lingkaran Survei Indonesia dengan judul Faktor Etnis dalam Pilkada (www.lsi.co.id) menghasilkan temuan bahwa aspek etnis bukanlah variabel penting dalam menjelaskan pilihan seseorang pada partai atau kandidat. Pemilih yang berasal dari etnis Jawa atau non-Jawa tidak terlihat punya perbedaan pilihan partai atau kandidat presiden.
Hasil penelitian beda ditunjukkan oleh Aris Ananta dkk tahun 2004. Hasil penelitian ini menunjukkan etnis adalah salah satu penjelas dalam perilaku pemilih di Indonesia. Ada partai yang diidentikkan sebagai Jawa dan partai luar Jawa. Besar kecilnya kontribusi variabel etnis dalam menjelaskan pilihan pemilih tergantung pada partai masingmasing. Temuan Ananta dkk ini menunjukkan hubungan positif yang kuat pada etnis Jawa terdapat pada PKB dan PDIP. Ini mengukuhkan pandangan bahwa kedua partai ini memang partai Jawa. Wilayah yang banyak suku Jawanya punya kecenderungan untuk memilih kedua partai. Indonesia secara relatif terdapat kesetiaan etnis (ethnic loyalty ) yang relatif tinggi dan partai politik di Indonesia dipengaruhi oleh etnisitas (Kajian Bulanan Edisi 9 Januari 2008 LSI, www.lsi.co.id).
Jika mengacu pada penelitian Ananta dkk, bisa jadi Tionghoa termasuk etnis yang loyal dalam memilih calon gubernur Jakarta. Atau dengan kata lain, Betawi tak seloyal Tionghoa dalam Pilgub DKI 2012!
Palmerah, 22072012
**pro**