SELAIN diikuti
oleh lima penggowes perempuan atau biasa disebut Srikandi sepeda, Jelajah
Sepeda Kompas Bali-Komodo yang
berlangsung 18-24 September 2012 juga diikuti oleh sejumlah
pesepeda gaek.
Meski demikian, mereka tidak kalah oke
dibandingkan goweser lain.
Daeng (64) celana hitam
Salah satu goweser sepuh itu adalah Tjahjadi. Meski sudah
berusia 64 tahun, peseda asal Surabaya, Jawa Timur, ini termasuk yang jago
ditanjakan. Ketika goweser lain dengkulnya
mulai cenat cenut, napas ngos-ngosan, dan kecepatannya terus menurun, bahkan terkadang dibantu didorong oleh
motoris,
Tjahjadi tetap stabil. Sehingga, jangan heran ketika di tanjakan, sering kali
dia menyodok ke depan, meninggalkan beberapa pesepeda lain.
"Kalau di jalan datar, biarinaja anak-anak muda
di depan. Di tanjakan baru saya yang maju," ujar pensiunan guru olahraga
ini.
Apa tip Daeng, panggilan Tjahjadi, yang jago tanjakan meski
usia paling tua di antara peserta lain? "Kita harus lihat tingkat
kemiringan tanjakan, gir juga pakai yang nomor 1, 2, dan 3 aja. Selain itu, tangan dan badan kita juga harus menyesuaikan
irama kaki," ujar mantan pebalap dan pelatih sepeda ini memberi tip.
Jalan Trans Sumbawa
Semula, ia menjelaskan secara teori, termasuk menghitung
tingkat kemiringan, gravitasi, dan jumlah gigi sepeda. Karena terlalu njelimet,
saya minta kiat yang mudah.
Saya nggakkebayang kalau harus menghitung rumus gravitasi, putaran roda,
jumlah gir, dan lain sebagainya ketika mengayuh di tanjakan. Dan, terapis penderita stroke --yang menyarankan pasiennya bersepeda supaya terbebas dari stoke-- ini pun
memberikan tip singkat tadi.
Go Suhartono (kiri) berfoto bersama wapemred Kompas
Goweser sepuh lainnya yang tak kalah kuatnya, baik di jalan
datar maupun tanjakan adalah Djoko (57) dan Go Suhartono (64). Joko yang asal
Jakarta dan Go Suhartono yang asal Surabaya mengaku secara rutin bersepeda.
"Saya hampir setiap hari gowes keliling Surabaya. Kadang-kadang, sehari bisa
150 km.
Kadang sama teman-teman juga turing, misalnya ke Yogyakarta atau daerah
lain," ujar Pak Go, sapaan
untuk Go Suhartono.
Djoko malah mengaku sering turin ke sejumlah wilayah, seperi Jawa Barat,
Yogyakarta, Jawa Tengah, dan tur Bali Bike (14-16 September). Beberapa minggu
lalu, dia dan para goweser lainnya baru saja menjelajah ranah Minang lewat
ajang Padang Audax. Seperti biasa,
meski sudah gaek, peseda yang satu ini memang senang narsis. Sehingga, ia pun
mengirimkan foto-fotonya. Termasuk foto ketika ia tertidur di emperan. “Ini
foto setelah naik kelok 44,” ujarnya lewat blackberry messenger.
Meski mereka telah ber-KTP ‘seumuer
hidup’, sikap dan perilakunya tetap asyik. Diajak ngobrol oke. Bercanda juga hayuk.
Karena rajin bersepeda, para 'manula' itu juga tetap enerjik, bebas stroke, sehat,
dan murah senyum serta humoris. Mereka terlihat lebih muda dari usianya. Itulah
manfaat lain bersepeda. Siapa mau mencoba.
**pro.suprapto**
Palmerah, 11102012
Salah satu rute yang dilewati jelajah Bali-Komodo di Pulau Sumbawa
TIBA-TIBA saya ingat Pak Djoko. Orang terkadang mengenalnya sebagai
Djoko Merlin. Di BB-nya juga dia
menulis sebagai Djoko Merlin. Bisa jadi dia dikenal dg
'Merlin' di belekang namanya krn sering
pakai sepeda merek Merlin. Djoko mengaku membeli sepeda itu di atas Rp 20 jt. Wuihh.
Saya bukan mau ngomongin
sepedanya. Saya justru tertarik dan sering ingat dengan kelakuannya. Juga
dengan semangatnya. Bayangkan! Meski usianya 57 tahun, dia tetap suka bercanda
dan bersemangat ketika sebagian penggowes sdg ngos-ngosan di tanjakan. Dia sering mendahului dari sisi kanan ketika
peserta jelajah sedang
'menurunkan' kecepatan di jalan mendaki. Saat itu biasanya dia
melontarkan omongan, "Mana suaranya." Kesannya meledek, tapi sesungguhnya --paling
tdk dalam pandangan saya-- itu adalah pelecut semangat.
Saya juga ingat omongannya ketika jamuan makan malam sebagai tanda berakhirnya
jelajah Bali-Komodo di Hotel Jayakarta, Labuan Bajo, Senin (24/9).
Pertama dia memuji teman-teman KGC yang kompak dan oke-oke. Kedua dia bilang, tentang kebersamaan. "Mungkin akan lebih pas
kalau peseda yg kuat di tanjakan, tetap mendampingi peseda lain yg kurang kuat.
Sehingga, mereka tetap semangat dan tidak merasa ditinggal," katanya.
Ketika ada teman peseda lain --yang kebetulan tidak ikut jelajah Bali-Komodo tetapi
hadir di Hotel Jayakarta-- mendengarnya, dia berujar, "Kalau begitu, bisa
mengurangi akselerasi peseda yg kuat. Dia bisa down."
Mungkin karena tak enak berbeda pendapat, begitu teman itu pergi mengambil
makanan, Djoko kembali berpendapat bahwa kehilangan akselerasi atau tidak
tergantung kemampuan dan mental peseda. "Buktinya ada yang lebih kuat
gowes, toh dia tetap bisa bersepeda dalam kebersamaan," katanya.
Saya yang mendengar dan terlibat dalam pembicaraan itu ngebatin, dua pendapat itu sama benar. Tergantung dari mana kita
melihat dan dalam konteks seperti apa. Yang penting adalah kebersamaan tetap
tercipta dan peseda yang punya energi lebih pun tidak kehilangan akselerasinya
hanya karena ada teman peseda lain yang lamban jalannya. "Saya puas, setelah
tanjakan Wawo, Bima, sampai pelabuhan Sape saya kebut terus. Saya bertiga
dengan Dede dan satu peseda dari Bali saling kebut," ujar Bakti, peseda
dari Komunitas Cihuni.
Dalam Jelajah Bali-Komodo saya lihat kebersamaan itu tak menghilangkan
kemampuan akselerasi beberapa peseda. Keduanya bisa berjalan beriringan. Kondisi inilah yang menambah kekuatan dan semangat bagi para peseda sehingga bisa menyelesaikan jelajah sepanjang 650-an km itu tanpa ada kendala berarti. Selamat menggowes!!!
BAGI sebagian besar masyarakat Indonesia, Nusakambangan dikenal sebagai
tempat yang menjeramkan. Di sinilah penjara untuk penjahat kelas kakap. Para
narapidana kasus pembunuhan berencana, pembunuhan berantai, teroris, koruptor, sampai
bandar narkoba ada di pulau yang membentang di selatan Pulau Jawa dan terletak
di Kabupaten Cilacap ini. Pemerintah Belanda ketika menjajah Indonesia
menjadikan pulau ini sebagai pulau penjara sehingga penguasaannya sampai kini
masih di bawah Kementerian Hukum dan HakAsasi Manusia.
Selama ini ada sebutan yang salah kaprah, yakni tentang istilah Penjara (atau
Lembaga PemasyarakatanNusakambangan. Sesungguhnya, nama lembaga pemasyarakatan
(LP) itu tidak ada. Dulu, di pulau yang memiliki luas 121 kilometer persegi itu
terdapat sembilan LP. Tetapi, kini tinggal tujuh LP, yaitu LP Batu, LP Kembang
Kuning, LP Narkoba, LP Terbuka, LP Permisan, LP Besi, dan LP Pasir Putih.
Dari tujuh LP itu, hanya satu LP yang dibangun di era reformasi, yakni LP
Pasir Putih. LP dengan pendapatan super
maximum security ini terletak di ujung barat/selatan Pulau Nusambangan, di
dekat Pantai Pasir Putih. Pantai yang langsung berhadapan dengan laut lepas
(Samudera Indonesia) ini adalah tempat pembaretan atau pelantikan anggota
Kopassus TNI AD setelah dinyatakan lulus pendidikan dasar.
Tahun 2004, penulis mengunjungi LP ini ketika dalam tahap pembangunan. Di
dekat LP itu terdapat LP Permisan (tertua, dibangun 1908). Beberapa LP lain,
seperti LP Batu dibangun 1929 dan LP Kembang Kuning 1950. LP Terbuka hanya
diperuntukkan bagi para napi yang sudah menjalani masa hukuman lebih dari 2/3
dan dinyatakan ‘jinak’. Para napi itulah yang dibolehkan berjualan batu cincin
hasil kerajinan napi kepada para pengunjung Pulau Nusakambangan.
Salah seorang kepala LP kepada penulis beberapa waktu lalu mengatakan,
pendekatan yang dilakukan di LP yang ada di Nusakambangan pada umumnya
pendapatan keamanan. Hal ini karena para napi yang dikirim ke LP di pulau ini
pada umumnya adalah napi-napi ‘juara’ dari sejumlah LP kelas satu, seperti LP
Cirebon, LP Cipinang, dan sejumlah LP di Pulau Sumatera. Karena itu, mereka itu
‘dinyatakan’ tak lagi mempan menggunakan pendepatan yang lebih ‘santun’.
Untuk mengunjungi pulau yang juga dijuluki sebagai Alcatraz-nya Indonesia
itu tidaklah mudah. Harus jelas maksud dan tujuannya dan harus pula memiliki
izin tertulis dari Menteri Hukum dan HAM melalui Direktorat Jenderal Lembaga
Pemasyarakatan. Izin tertulis itu pun harus ditembuskan kepada petugas LP di
Pelabuhan Sodong, pelabuhan khusus yang
dioperasikan oleh Ditjen Lapas Kemenhum dan HAM.
Hanya melalui pelabuhan inilah keluar masuk para napi dan keluarga serta
tamu lain yang akan berkunjung ke sejumlah LP hingga ke Pantai Pasir Putih. Ada
beberapa pelabuhan lain yang dikuasai Pertamina, perusahaan semen, dan
pelabuhan untuk mendarat perahu-perahu kecil untuk pariwisata yang terletak di
sisi utara/timur Pulau Nusakambangan.
Pulau Alcatraz adalah sebuah pulau yang terletak di
tengah Teluk San Francisco di California,
Amerika
Serikat. Dulu, Alcatraz merupakan benteng pertahanan militer dan
kemudian dijadikan penjara super maximum security. Kini pulau ini menjadi situs
sejarah yang dikelola oleh Dinas
Pertamanan Nasional AS sebagai Tempat
Rekreasi Nasional Golden Gate dan dibuka untuk wisatawan.
Apakah tidak ada cara khusus untuk menyeberang ke Nusakambangan dengan
membawa mobil melalui Pelabuhan Sodong? Pada Lebaran 1433 H ini, Ditjen Lapas
memberikan kemudahan bagi masyarakat umum yang ingin berwisata ke Pantai Pasir
Putih. Caranya, sediakan uang Rp 400.000 untuk satu mobil berikut isinya.
“Jadi sistem paket Pak. Satu mobil bayar Rp 400.000 untuk ongkos
penyeberangan pulang balik. Di sana bisa melihat beberapa tempat wisata, paling
terkenal Pantai Pasir Putih,” ujar seorang petugas penyeberangan. Bagi keluarga napi, katanya, gratis. Tetapi,
penulis melihat beberapa di antara mereka memberikan amplop ketika meninggalkan
pelabuhan itu seusai membesuk keluarga.
Kebijakan wisata Pulau Nusakambangan itu berlaku sejak Lebaran hingga
seminggu ke depan atau Minggu (26/8). Jadwal keberangkatan kapal paling pagi dari
Pelabuhan Sodong sekitar pukul 08.00 dan jadwal kembali paling terakhir pukul
18.30. Jalan yang membentang dari pelabuhan hingga ke Pantai Pasir Putih
diaspal hotmik. Waktu tempat sekitar 30 menit.
Pihak pengelola LP di Pulau Nusakambangan tidak menyediakan kendaraan bagi
para wisatawan. Karena itu, hanya wisatawan yang bermobil yang bisa berkunjung
atau melihat dari sisi luar penjara-penjara tersebut. “Kendaraan hanya untuk
keluarga napi,” ujar petugas tersebut.
Silakan yang ingin menikmati Pantai Pasir Putih dan melihat penjara tempat
Amrozi dan Imam Samudera serta Tommy Soeharto dipenjara.
Palmerah, 25082012
**pro**
BANYAK cara memaknai kemerdekaan.
Tak sedikit pula kiat menjelaskan arti kemerdekaan. Tak ada yang salah. Begitu pun
tak ada yang bisa mengklaim pendapatnyalah yang paling benar dan kontekstual. Semua
tergantung siapa dan dari sudut mana dalam melihat kemerdekaan itu sendiri. Tentu juga tergantung dengan kondisi dan
posisinya saat ini.
Di sudut-sudut jalan di
Jakarta kini bertebaran spanduk berisi tentang pemaknaan Kemerdekaan Ke-67 RI.
Di sejumlah media massa, para politisi dan pimpinan berbagai organisasi
beriklan atau berkomentar hal serupa. Di
berbagai pertemuan, para tokoh masyarakat berbicara dan mencoba mengaitkan
kebebesan, kemerdekaan, Ramadan, dan Idul Fitri.
Sebuah spanduk yang
dipasang oleh salah satu partai politik (parpol) mencoba mengaitkan kemerdekaan
dengan Lebaran. “Kemerdekaan adalah Fitrah Manusia.” Demikian tulisan di spanduk
itu. Ada juga yang mencoba mengartikan kemerdekaan dengan kerja keras, kemerdekaan
adalah hak manusia yang paling hakiki, sampai pada berkesimpulan, kemerdekaan dalam
kaitan bulan Ramadan bermakna kemerdekaan dari kendali hawa nafsu dan diperalatan
oleh bisik-bisik syetan.
Sekali lagi, semua itu
boleh-boleh saja. Tetapi, adakah yang berpikir dan berpendapat lain? Simak arti
kemerdekaan yang diungkapkan dan diekspresikan oleh Wiwi (19). Perempuan
pekerja rumah tangga ini mengartikan
kemerdekaan kali ini adalah bisa mudik Lebaran lebih cepat. Tahun-tahun
sebelumnya, ia baru diizinkan pulang kampung oleh majikan di tempatnya bekerja tiga
hari sampai seminggu sebelum Hari Raya. Kebiasaan itu sudah berjalan paling
tidak dua tahun. Tetapi, kali ini, ia pulang ke kampungnya di Cilacap, Jawa Tengah,
15 hari sebelum Idul Fitri.
“Enak. Bisa santai dan
puas main sama temen-temen di kampung,”
ujarnya memberi alasan. Meski diizinkan mudik lebih cepat, hak yang ia dapat
tidak berkurang, bahkan sedikit lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Ia
tetap memperoleh satu bulan Tunjangan Hari Raya (THR), gaji bulanan, uang
transport dari sang nyonya dan ditambahi pula oleh sang tuan, biskuit dan sirop
untuk berlebaran, serta kue dan makanan untuk berbuka puasa dalam perjalanan.
Tak lupa, ia juga
membawa satu tas tangan berisi peralatan make
up, sabun, dan dompet, satu ransel
berisi pakaian, satu kardus untuk sepatu dan sandal-sandal, dan handuk , serta
dua kaleng biskuit dan tiga botol sirop yang dibiarkan dibungkus tas plastik (kresek)
bermerek sebuah pusat perbelanjaan. Tak
ketinggalan, dua handphone (HP)kaya fitur mirip smart HP merek kenamaan. Tapi, HP si Mbak ini buatan lokal. Meski
demikian, alat komunikasi itu tak hanya bisa digunakan untuk menelepon dan
kirim SMS, tetapi juga untuk mendengarkan musik, memotret, serta tersedia
berbagai fasilitas internet dan media sosial. Untuk yang terakhir, Wiwi masih
mengaku ‘gaptek’ alias gagap teknologi.
Berbekal itu semua serta
dengan berpakaian kaos dan celana ketat serta sepatu kets berwarna pink, Wiwi
benar-benar menikmati arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Begitu sampai di
terminal bus, meski berdesak-desakan, dia tetap happy dan merdeka yang
sesungguhnya. Bila selama ini, ketika sedang bekerja, ia selalu menerima
perintah, kali ini ia berperan sebaliknya. Jari telunjuk yang selama ini bisa
dibilang tak pernah digunakan, sekarang ia manfaatkan untuk menunjuk barang
bawaannya. Kepada kernet bus, dia menyuruhnya untuk membawakan tas dan kardus.
Apa yang dirasakaan Wiwi
pada umumnya juga dirasakan oleh para perempuan lain yang bekerja di perumahan (PRT). Begitu tiba di
terminal, stasiun, atau pelabuhan dan bertemu dengan teman-teman sekampungnya, mereka
benar-benar merasakan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Sekaranglah saatnya
mereka ganti peran menjadi ‘majikan’. Mereka bisa menyuruh atau meminta tolong
kepada tukang kuli panggul, petugas porter, kernet bus, atau calo angkutan untuk
membantu mengurus keperluannya; bisa mengangkat barang, menunjukkan tempat
duduk, atau lainnya.
Mereka tak mau
dipusingkan oleh perdebatan para
politisi, pejabat, tokoh masyarkat, pimpinan organisasi, atau para aktivis
lembaga swadya masyarakat tentang arti dan makna setiap tujuh belas Agustus.
Kebebasan atau kemerdekaan yang sesungguhnya hanya
mereka rasakan setahun sekali, ketika mudik Lebaran! Di luar itu, mereka
seperti selalu dalam pengawasan. Karena itu, saya sangat prihatin jika masih
saja ada pejabat yang ketika mengunjungi terminal atau stasiun berbicara, “Kenapa
sih mau bersusah-susah,
berdesak-desakan di angkutan umum, atau mengeluarkan uang banyak setiap tahun
untuk mudik?” Pejabat seperti ini hanya melihat sesuatu dari posisinya yang
mungkin setiap saat bisa bepergian ke mana saja dengan anggaran negara. Dia mesti belajar ‘bisa merasa’ bukan hanya ‘merasa
bisa’
Saya tak bermaksud memprovokasi salah satu
etnis. Tetapi, jika melihat hasil exit
poll (survey yang dilakukan setelah Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta
2012), bisa dikatakan, etnis Betawi tak seloyal etnis Tionghoa dalam mendukung
jagoannya. Bukti konkret adalah pasangan asli Betawi, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli
hanya didukung oleh separuh warga asli Jakarta itu. Pasangan campuran
Jawa-Tionghoa, yakni Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, didukung oleh hampir semua warga Jakarta
beretnis Tionghoa.
Exit
poll yang dilakukan Kompas pada 11 Juli 2012 menunjukkan,
Foke-Nara –julukan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli—hanya didukung oleh 58,5
persen warga Betawi. Padahal, pasangan ini adalah pasangan yang didukung secara
penuh oleh berbagai ormas dan elemen masyarakat Betawi. Sejumlah ormas Betawi
yang sudah cukup dikenal, seperti Forkabi, Forum Betawu Rempug, Bamus Betawi,
Permata Jakarta, Pemuda Betawi, dan yang baru dibentuk menjelang pilgub,
seperti Front Betawi Bersatu (FBB), berada di belakang pasangan ini.
Berdasarkan data dari petugas di Sekretariat
Tim Sukses Foke-Nara, Dipo 61, di Jalan Diponegoro No 61, Menteng, Jakarta
Pusat, sekitar 250 ormas berada di belakang pasangan Foke-Nara. Sebagian ormas-ormas
itu adalah mereka yang mengatasnamakan Betawi, Jakarta, nama-nama kawasan di
Jakarta, atau nama yang identik dengan Fauzi Bowo. Para pemimpin ormas itu pada
umumnya mengaku asli Betawi atau warga Jakarta. Beberapa nama ormas itu –selain
yang telah disebut di atas-- adalah Persatuan Orang Betawi, Barisan Jakarta,
Forum Matahari Jakarta, Brigade Anak Jakarta, Eef Bee One, Lembaga Macan
Kemayoran, dan BeCeng (Betawi Cengkareng).
Branding Foke-Nara sebagai calon Betawi tidak hanya
ditunjukkan oleh para pendukungnya, tetapi juga oleh atribut mereka. Misalnya
saja, pakaian yang dikenakan, baik saat mendaftarkan diri sebagai pasangan
calon pada 19 Maret 2012 malam, yang terpasang di sejumlah billboard, poster,
dan spanduk, serta foto yang tercantum dalam surat suara, menunjukkan
kebetawian pasangan ini. Beberapa artis pendukung dalam kampanye juga asli
Betawi seperti Jaja Miharja. Bahkan, mantan Wakil Ketua Golkar DKI Jakarta Agus
Zakaria mengaku rela dipecat dari kepengerusan partai ini ketimbang mengkhianati
saudara Betawinya, Foke-Nara. Dalam setiap kampanye, beberapa lagu yang
dinyanyikan pun berdialek Betawi. Bahkan, bahasa kampanyenya sering menggunakan
bahasa Betawi.
Tetapi, hasil exit poll yang dirilis Harian Kompas
pada 13 Juli 2012 menunjukkan, pasangan Foke-Nara hanya meraih dukungan
58,5 persen dari etnis Betawi. Pasangan nomor 2, yakni Hendardji- A Riza Patria
mendapat dukungan 3,5 persen, Joko Widodo-Basuki 21,8 persen, Hidayat Nur
Wahid-Didik J Rachbini 9,2 persen, Faisal Basri Batubara-Biem Benjamin 4,4
persen, dan Alex Noerdin-Nono Sampono 2,6 persen. Dengan demikian, Joko-Basuki
mampu meraih simpati dari masyarakat Betawi terbesar kedua setelah Foke-Nara.
Sebenarnya, ketidakkompakan tokoh etnis Betawi
dalam mendukung pasangan calon sudah bisa dirasakan jauh sebelum pemungutan
suara. Tokoh dan budayawan Betawi, Ridwan Saidi, adalah salah satu di antaranya
yang paling getol menyuarakan penolakan terhadap Foke-Nara. "Pasangan Foke-Nachrowi bagi saya paling ancur. Kredibilitas dan kemampuannya memimpin, gagal membawa Ibu
Kota lebih baik. Pasangan ini malah yang akan memperoleh suara rendah alias
kalah," ujar Ridwan Saidi kepada wartawan, Jum'at (13/4/2012) seperti dikutip www.tribunnews.com.
Seorang ulama asli Betawi yang cukup terkenal
dari Jakarta Timur yang digandeng oleh Ketua PWNU DKI Jakarta, Djan Faridz, dan
para habaib dari kawasan Condet, juga mendukung
Joko Widodo-Basuki. Beberapa masyarakat asli Betawi di Kelurahan Kamal,
Kalideres, Jakarta Barat, malah menjadi saksi untuk pasangan yang diusung oleh
PDIP dan Gerindra ini. “Di beberapa TPS di Kamal, saksi Jokowi-Ahok asli
Betawi,” ujar seorang pengurus PDIP Kecamatan Kalideres. Dia mengatakan, mereka
mendukung Jokowi-Ahok karena kedekatan dan pendekatan yang dilakukannya.
Bisa jadi karena faktor itu sehingga suara
Betawi pecah. Di samping itu, kalau kita kaji asal usul etnis ini, ternyata
bukanlah ‘pemilik’ asli Jakarta. Jauh sebelum Betawi ada, Jakarta (Batavia) sudah
ditempati oleh orang dari berbagai suku bangsa, seperti Sunda, Jawa, Bugis, Makassar, Ambon, Melayu, dan Bali. Dalam
buku pengantar pameran bertajuk “Betawi Punye Gaye” hasil kerja sama Bentara
Budaya Jakarta (BBJ) dan Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI) disebutkan,
Betawi ibarat gado-gado yang lahir dari berbagai macam suku bangsa (baca: Penduduk Asli Jakarta Bukan Cuma Betawi)
Antropolog
Universitas Indonesia, Dr Yasmine Zaki Shahab MA memperkirakan, etnis Betawi
baru terbentuk sekitar seabad lalu, sekitar
tahun 1815-1893. Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah
demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Castle. Di
zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang dibuat
berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta
tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi
tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi (www.wikipedia.org).
Karena asal usulnya yang ‘gado-gado’ itu
membuat suku Betawi memiliki sifat yang lebih terbuka, berjiwa sosial –meskit erkadang
cenderung tendensius-- dan menghargai plurarisme. Meski sebagian besar etnis
Betawi Bergama Islam, sebagian lainnya ada juga yang beragama Kristen Protestan
dan Katolik. Bisa jadi, kondisi itu pula yang memengaruhi perilaku politik mereka
dalam Pilgub DKI 2012 ini.
Bagaimana dengan etnis Tionghoa? Dukungan
mayoritas diberikan etnis ini kepada Joko Widodo-Basuki atau yang dikenal
sebagai pasangan Jokowi-Ahok. Pasangan ini hampir menyapu bersih pemilih
Tionghoa di Jakarta, dengan meraih dukungan 92,7 persen. Sisa warga Tionghoa
sebanyak 7,3 persen menyalurkan aspirasi politiknya dengan memilih Foke-Nara.
Empat pasangan lainnya sama sekali tak meraih dukungan yang siginifikan dari
etnis yang berdasarakan Sensus Penduduk tahun 2000 BPS mencapai 5,52 persen
dari penduduk Jakarta ini.
Kalau kita cermati melalui pemberitaan,
kampanye, maupun gerakan yang dilakukan oleh pasangan ini, dukungan dari warga
Tionghoa tak segerlap dukungan etnis Betawi terhadap Foke-Nara. Tetapi, harus
diakui bahwa tidak ada –atau tidak terdengar-- tokoh Tionghoa yang menolak Ahok
yang secara terus menerus bicara melalui media.
Dukungan menonjol terhadap Ahok sebenarnya hanya
diberikan oleh Persatuan Tionghoa Raya (Petir) –yang sebagian pengurusnya juga
anggota Partai Gerindra. Dukungan itu diberikan Petir saat bertemu dengan Ahok
dalam pertemuan yang berlangsung 12 April 2012 di Jakarta. Saat itu, Ahok pun mengaku
tidak suka dengan istilah pribumi dan nonpribumi.
"Saya
Indonesia asli. Sejujurnya saya tidak suka memakai istilah pribumi dan
nonpribumi. Jangan lihat warna kulit, tetapi lihat karakternya. Saya menjadi
pejabat, itu memperjuangkan semua suku yang ada di Jakarta. Mau Melayu,
Tionghoa, atau Betawi," ujar Ahok, seperti dikutip oleh www.tribunnews.comRabu (11/4/2012).
Mengenai loyalitas etnis Tionghoa dalam
mendukung Jokowi-Ahok, tidak tertutup
kemungkinan ini adalah bentuk dari luapan sikap tertekan mereka selama ini.
Seperti kita ketahui, pada masa Orde Baru, etnis ni banyak diperlakukan
diskriminatif, terutama di bidang politik dan sosial budaya. Mereka lebih
banyak diarahkan untuk masuk ke bidang ekonomi. Karena itu, begitu ada di
antara mereka yang berpeluang masuk ke
dunia politik, mereka pun menjadi merasa senasib untuk sama-sama memperjuangkan
calon tersebut.
Seorang ketua RW di sebuah kompleks perumahan
di daerah Jakarta Barat mengaku bahwa sebagian besar warganya memang memilih
pasangan Jokowi-Ahok. “Faktor Ahok sangat berpengaruh sekali. Kalau Jokowi sih
tidak terlalu dilihat,” ujar ketua RW yang sebagian besar warganya beretnis
Tionghoa. Dia tak mau menjelaskan secara detail alasan dukungan warganya
terhadap Ahok tersebut.
Prof Nurul Aini, dosen di Institut Pemerintahan
Dalam Negeri (IPDN), mengatakan, ada empat faktor yang memengaruhi pemilih,
yaitu program kandidat, parpol kandidat, orientasi kandidat itu sendiri, serta
birorkat. Faktor etnis dan agama masuk dalam orientasi kandidat.
Tetapi, penelitian yang dilakukan William
Liddle dan Saiful Mujani pada 2003 dan 2007 sebagaimana dikutip dari Kajian
Bulanan Edisi 9 Januari 2008 Lingkaran Survei Indonesia dengan judul Faktor Etnis dalam Pilkada (www.lsi.co.id) menghasilkan
temuan bahwa aspek etnis bukanlah variabel penting dalam menjelaskan pilihan
seseorang pada partai atau kandidat. Pemilih yang berasal dari etnis Jawa atau
non-Jawa tidak terlihat punya perbedaan pilihan partai atau kandidat presiden.
Hasil penelitian beda ditunjukkan oleh Aris
Ananta dkk tahun 2004. Hasil penelitian ini menunjukkan etnis adalah salah satu
penjelas dalam perilaku pemilih di Indonesia. Ada partai yang diidentikkan
sebagai Jawa dan partai luar Jawa. Besar kecilnya kontribusi variabel etnis
dalam menjelaskan pilihan pemilih tergantung pada partai masingmasing. Temuan
Ananta dkk ini menunjukkan hubungan positif yang kuat pada etnis Jawa terdapat
pada PKB dan PDIP. Ini mengukuhkan pandangan bahwa kedua partai ini memang
partai Jawa. Wilayah yang banyak suku Jawanya punya kecenderungan untuk memilih
kedua partai. Indonesia secara relatif terdapat kesetiaan etnis (ethnic loyalty
) yang relatif tinggi dan partai politik di Indonesia dipengaruhi oleh
etnisitas (Kajian Bulanan Edisi 9 Januari 2008 LSI, www.lsi.co.id).
Jika mengacu pada penelitian Ananta dkk, bisa
jadi Tionghoa termasuk etnis yang loyal dalam memilih calon gubernur Jakarta.
Atau dengan kata lain, Betawi tak seloyal Tionghoa dalam Pilgub DKI 2012!