Kamis, 12 Juli 2012

Empat Kejutan Pilgub DKI 2012!


Pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2012 banyak hal yang muncul di luar prediksi! Kejutan pertama adalah melesatnya perolehan suara pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang mampu menjungkirbalikkan prediksi sejumlah lembaga survei dengan ‘memenangi’ putaran pertama (I). Kejutan kedua adalah raihan suara calon independen, yakni pasangan Faisal Basri Batubara-Biem T Benjamin yang mampu mengungguli calon yang diusung dua partai politik, yakni Alex Noerdin-Nono Sampono.
 Kejutan ketiga adalah anjloknya perolehan suara pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS).  Kejutan terakhir tentu saja perolehan suara pasangan Fauzi  Bowo-Nachrowi Ramli yang jauh di bawah dari perkiraan, bahkan di bawah dari total perolehan suara partai pendukungnya.
“Ini memang di luar perkiraan kami. Sebelumnya kami yakin bahwa Jokowi-Ahok akan masuk dalam putaran kedua. Tetapi, kami tak mengira perolehan suaranya sebesar ini, bahkan melebihi pasangan incumbent,” ujar M Taufik, Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta, Rabu (11/7) malam. Partai Gerindra yang mempunyai 6 wakil di DPRD DKI (6,38 persen) berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang meraih 11 kursi DPRD DKI (11,70 persen) mengusung pasangan Jokowi-Ahok.
Beberapa kali survei yang dilakukan oleh tim yang menjadi think thank partai tersebut, hasil dukungan pemilih memang menunjukkan tren positif terhadap calon yang dijagokannya tersebut. Tetapi, hingga survei terakhir beberapa hari menjelang coblosan, 11 Juli 2012, perolehan suara Jokowi-Ahok tetap masih di bawah perolehan suara pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara). Memang ada sejumlah voters yang masih belum menjatuhkan pilihan. Tetapi, tim tidak menduga bahwa swing voters kemudian menjatuhkan pilihannya ke Jokowi-Ahok. Tidak tertutup kemungkin swing voters itulah yang akhirnya menjatuhkan pilihannya kepada pasangan dengan ciri khas baju kotak-kotak tersebut.
Sekadar pembanding, pada 3 Juli 2012, Survei Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), MNC Riset, dan Prisma menyimpulkan bahwa pasangan petahana Foke-Nara akan bersaing hingga putaran kedua dengan pasangan Jokowi-Ahok. Berdasarkan hasil riset, perolehan dukungan terhadap kedua pasangan tersebut melebihi angka 20 persen sedangkan pasangan lainnya dibawah 10 persen.  
Menurut Suhardi, salah satu peneliti LP3ES, Foke-Nara memperoleh 24,5 persen dukungan, sedangkan Jokowi-Ahok dengan 22,7 persen. Perolehan suara pasangan lain adalah Hidayat-Didik 4,9 persen, Alex-Nono 2,8 persen, Faisal-Biem 2,7 persen, serta Hendardji-Riza 1,1 persen. Survei dilakukan melalui telepon atau telepolling.
Sementara itu,  Lingkaran Survey Indonesia (LSI) pada 1 Juli 2012 juga merilis hasil survei. Baik pilgub satu atau dua putaran, hasil survei itu menunjukkan bahwa pasangan Foke-Nara memiliki kemungkinan terbesar memenangi Pilgub DKI 2012. Salah satu peneliti LSI, Arman Salam, mengungkapkan, pasangan Foke-Nara didukung oleh 43,7 persen pemilih, pasangan Jokowi-Ahok 14,4 persen. Empat pasangan lainnya didukung masing-masing di bawah 10 persen, bahkan ada yang di bawah 5 persen.
Survei-survei yang dilakukan sejumlah lembaga survei lainnya pun menunjukkan angka yang kisaran perolehan suaranya relatif sama. Posisi pertama pasangan Foke-Nara, diikuti Jokowi-Ahok, Hidayat-Didik, dan pasangan lain. Tetapi, 11 Juli 2012, sekitar 4.623.204 pemilih telah menjatuhkan ‘vonis’. Di luar perkirakan banyak pihak, perolehan suara Jokowi-Ahok mengejutkan banyak pihak –bahkan bisa menjadi membuat stress kelompok tertentu.
Berdasarkan hasil hitung cepat yang dilakukan Kompas, pasangan Jokowi-Ahok melesat, meninggalkan para pesaingnya dengan memperoleh 42.59 persen dukungan disusul oleh pasangan Foke-Nara dengan 34,32 persen dukungan. Posisi ketiga ditempati pasangan Hidayat-Didik dengan 11,40 persen, Faisal-Biem 5,07 persen, Alex-Nono 4,74 persen, dan Hendardji-Riza 1,88 persen.  Lebih lengkap bisa dilihat dalam data di bawah ini:

NOMOR
PASANGAN CALON
% DUKUNGAN
PERKIRAAN PEMILIH

1
Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli
34.32%
                   1,586,683.65

2
Hendardji-Riza
1.88%
                         86,916.24

3
Joko Widodo-Basuki T Purnama
42.59%
                   1,969,022.63

4
Hidayat Nur Wahid-Didik Rachbini
11.40%
                      527,045.27

5
Faisal Batubara-Biem Benjamin
5.07%
                      234,396.45

6
Alex Noerdin-Nono Sampono
4.74%
                      219,139.87

Catatan: Sumber hasil hitung cepat Kompas diolah
Jumlah DPT 6.983.692, golput 33,88 persen
Perolehan suara Faisal-Biem itu juga membuat banyak pihak yang terkesima. Meski diyakini dia tak akan memenangi atau lolos pada putara kedua, dukungan pemilih terhadap pasangan independen yang melebihi perolehan suara  Alex-Nono jelas sebuah ‘prestasi’ yang layak diacungi jempol. Faisal-Biem yang dari sisi finansial dan jaringan jauh di bawah Alex-Nono,  ternyata perolehan suaranya mampu menduduki peringkat ketiga.
Alex-Nono yang dikung oleh 18 partai politik, tiga di antaranya adalah peraih kursi di DPRD DKI, yakni Partai Golkar dengan 7 kursi (7,44 persen), PPP 7 kursi (7,44 persen), dan Partai Damai Sejahtera 4 kursi (4,25 persen), serta 15 parpol non-parlemen, ternyata hanya memperoleh dukungan 4,74 persen. Padahal, jika dihitung dari jumlah raihan kursi DPRD DKI tiga partai pendukungnya saja sudah mencapai 19,14 persen. Tetapi, perolehan suaranya hanya sekitar seperempat  suara parpol pendukungnya.
 Bisa jadi, ‘hukuman’ terhadap Alex-Nono itu tak lepas dari sikap partai pendukungnya yang  mendukung kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) –meski dengan catatan—pada rapat paripurna DPR beberapa waktu lalu. Di samping itu, citra Partai Golkar juga sedang menurun karena kadernya di DPR yang tersangkut kasus korupsi pengadaan Al Quran di Kementerian Agama.
Jika kita lihat perolehan suara pasangan Hidayat-Didik, tentu ada sesuatu yang tidak beres. Pada Pemilu legislatif 2009, PKS di DKI Jakarta memperoleh 17,23 suara. Jika dihitung dengan perolehan kursi di DPRD DKI, yakni 18 kursi, sesungguhnya partai ini memperoleh 34,04 persen kursi. Pada Pemilukada DKI 2007, calon yang diusung PKS, yakni Adang Daradjatun-Dani Anwar memperoleh 1.521.831 suara atau 42,11 persen. Tetapi, pada Pilgub DKI  2012, jago PKS hanya memperoleh 11,40 persen (hasil hitung cepat Kompas). Anjloknya perolehan suara itu bisa jadi karena mesin partai pendukungnya yang tidak berputar maksimal, penilaian pemilih yang tak sreg, atau angka inilah menggambarkan sesungguhnya kekuatan riil PKS di Jakarta. 
Kejutan yang  menghentakkan jantung sejumlah pendukung Foke-Nara adalah peroleh suara pasangan calon petahana ini yang hanya meraih 34,32 persen. Padahal, berdasarakn hitungan sejumlah lembaga survey, perolehan suara Foke-Nara pada umumnya di atas 40 persen. Bahkan, survey internal yang dilakukan oleh lembaga survey yang dibiayai oleh pasangan ini menunjukkan bahwa Foke-Nara memperoleh dukungan sekitar 49 persen. Karena itu, optimisme pasangan dan anggota tim sukses serta partai pendukung pasangan tersebut selama ini begitu tinggi. Mereka pun sangat optimis akan memenangi pertandingan hanya dalam satu putaran.
Pemilh telah menjatuhkan pilihan mereka. Hasilnya, Foke-Nara berdasarkan hasil hitung cepat hanya didukung oleh 34,32 persen. Jumlah ini saja jauh di bawah dukungan dari partai politik yang mengusungnya. Berdasarkan Keputusan KPU DKI No: 20/Kpts/KPU-Prov-010/2012, ada tujuh parpol yang mengusungnya, empat di antaranya adalah parpol peraih kursi di DPRD DKI. Keempat parpol itu adalah Partai Demokrat peraih 32 kursi (34,04 persen), PAN 4 kursi (4,25 persen), Partai Hanura 4 kursi (4,25 persen), dan PKB 1 kursi (1,06 persen). Jumlah kursi DPRD DKI 2009-2014 adalah 94 orang.  Tiga partai pengusung lainnya adalah parta yang tidak mempunyai wakil di DPRD DKI. Di tengah masa kampanye, dukungan datang lagi dari empat parpol yang semula mendukung pasangan Jokowi-Ahok.
Ada apa dengan pasangan Foke-Nara sehingga sangat ‘ditinggalkan’ oleh warga Jakarta. Sekadar pembanding, pada 2007, Fauzi Bowo yang berpasangan dengan Prijanto memperoleh dukungan dari 2.091.909 pemilih atau setara dengan 57,88 persen. Tetapi, tahun 2012 ini Foke-Nara hanya didukung oleh 34,32 persen atau setara dengan 1.586.683 pemilih. Banyak hal yang menyebabkan penurunan dukungan itu. Dalam pandangan penulis, isu kedaerahan yang selalu menjadi ‘jualan’ pasangan ini justru menyebabkan larinya pendukung Foke pada Pemilukada 2007 dari etnis non-Betawi.
Data yang diperoleh penulis dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Betawi bukanlah etnis mayoritas di Jakarta. Hasil Sensus BPS tahun 2000 menunjukkan, penduduk Jakarta yang beretnis Betawi hanya 27,65 persen. Suku bangsa (etnis) Jawa adalah penduduk Jakarta dengan persentase tertinggi seperti terlihat dalam tabel di bawah ini.
PERSENTASE PENDUDUK JAKARTA BERDASARKAN ETNIS
NO
ETNIS
PERSENTASE
1
JAWA
35,17
2
SUNDA
15,27
3
BETAWI
27,65
4
MADURA
0,56
5
BATAK
3,61
6
MINANG
3,18
7
BUGIS
0,59
8
MELAYU
1,00
9
CINA KETURUNAN
5,52
10
LAINNYA
7,45
Sumber: Sensus Penduduk 2000, BPS DKI Jakarta
Dengan persentase penduduk seperti terlihat di atas, jika Foke-Nara ingin meraih simpati dukungan dari masyarakat Jakarta, mau tidak mau harus mengubah strategi kampanye atau komunikasi politiknya. Pendekatan kedaerahan atau isu primordialisme rasanya tak pas lagi untuk kondisi Jakarta yang memiliki karakter penduduk sangat heterogen. Di samping itu, Foke-Nara juga tidak bisa lagi mengandalkan dukungan dari partai politik –terutama Partai Demokrat yang sekarang sedang dililit sejumlah kasus korupsi. Jangan lagi menjadikan kader-kader partai yang telah disorot karena diduga terlibat kasus korupsi sebagai juru kampanye.
Menunggu kejutan dalam putaran kedua!
**pro**
Palmerah, 12 Juli 2012

Selasa, 10 Juli 2012

Ke Makam Demi Satu Putaran

Masa tenang bukan berarti diam. Banyak hal bisa dilakukan oleh pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2012-2017 atau pun tim suksesnya (timses). Ada yang tetap melakukan pekerjaan seperti biasa, ada yang memanfaatkan jejaring sosial, ada yang berkirim pesan singkat (SMS), ada yang nonton wayang bersama, mengirimkan pantun, ada pula yang tetap mendatangi basis massa dukungan mereka.
Simak SMS dari nomo 087736791XXX. Asslmk. Mari sama-sama kita bermunajat dan berdoa… Ya Alloh Yang Maha Bijaksana Maha Perkasa Maha Mengetahui Maha Tinggi kami memohon kepadaMU… . Menangkan dia. Berilah dukungan kepadanya. Amin. Mari ajak seluruh kader, keluarga, dan seluruh masyarakat untuk mendoakan kemenangan beliau. Amin.
Ada juga SMS lain yang mengajak dukungan kepada calon yang tidak berasal dari partai politik (parpol). Calon itu diusung oleh warga. Dalam UU, calon itu disebut calon perorangan atau orang mengatakan calon independen.
Faisal Basri, cagub dari unsur perseorangan, memilih liburan bersama keluarga ke Bogor. Di akun twitternya @FaisalBiem dia menulis, “Hari ini memasuki masa tenang. Akhirnya bisa menikmati waktu luang setelah berkampanye selama dua minggu.” Joko Widodo memilih pulang kampung ke Solo, Jawa Tengah, Bambang Tajahja Purnama atau biasa dipanggil Ahok, pasangan Jokowi, mengaku memilih menonton film Spiderman bersama anak-anak. Setelah itu, dia ingin jalan-jalan di mal.
Hidayat Nur Wahid memilih melakukan kegiatan sosial dan keagamaan, termasuk menjadi imam salat subuh serta menjadi penceramah. “Tadi juga saya diminta untuk jadi saksi pernikahan,” kata Hidayat sebagaimana dikutip dari www.tempo.co.
Fauzi Bowo, calon incumbent, tentu saja kembali melakukan aktivitasnya sebagai gubernur. Apalagi selama masa kampanye yang berlangsung 24 Juni hingga 7 Juli, dia hanya mengambil waktu cuti dua hari dari sebelumnya dia mengajukan waktu cuti empat hari. Sebagai seorang gubernur, aktivitas Foke –panggilan Fauzi Bowo—justru lebih banyak lagi. Dia bisa mendatangi berbagai komunitas masyarakat dan ini bisa dimanfaatkan untuk pencitraan.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta menetapkan masa tenang berlangsung 8 Juli sampai 10 Juli 2012 setelah kampanye berlangsung 24 Juni sampai 7 Juli. Rabu, 11 Juli 2012, adalah hari pemungutan suara atau pencoblosan. Jika tidak ada pasangan calon yang meraih 50 persen atau lebih dari suara yang syah, maka akan dilangsukan pemilihan putaran kedua. Karena itu, beberapa calon berharap bisa memenangi Pilgub DKI 2012 itu satu putaran.
Apa cuma itu acara mereka? Teranyata tidak. Ada juga anggota timses salah satu calon yang mendatangi sejumlah makam di Jakarta. Tujuannya untuk apa lagi kalau bukan berdoa meminta agar calon mereka memenangi ‘pertarungan’ bernilai total miliaran rupiah –bahkan bisa mencapai triliunan rupiah—dalam ajang yang disebut Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI 2012.
Bisa jadi Anda tak percaya jika ada tim ses yang mendatangi makam. Tetapi, kenyataan di lapangan memang ada. Sekitar pukul 20.00, dua buah bus Blue Bird berpendingin, meluncur dari kawasan Menteng. Tujuan pertama adalah kawasan Kwitang, Jakarta Pusat. Rombongan menuju ke rumah salah satu habib ternama di kawasan Kwitang. Diantar oleh sang habib, rombongan masuk masjid dan menuju ke tiga makam yang ada di samping masjid –menyata dengan bangunan masjid. Salah satu makan tertulis Habib Ali bin Al Habsyi.
Di samping makam Habib Ali ada dua makam lainnya. Aroma bunga dan wewangian cukup terasa di ruangan makam yang terlihat bersih, lengkap dengan pencahayaan yang terang benderang. Setelah membaca doa, rombongan duduk bersimbuh did epan makam dilanjutkan dengan membaca yasin. Setelah itu, dilanjut dengan membaca tahlil dan ditutup dengan doa. Isi doa itu selain meminta keselamatan dunia akhirat kepada kaum muslim, juga mendoakan kemenangan salah satu calon. “Mudah-mudahan berlangsung satu putaran,” u jar salah satu habib yang ikut dalam rombongan.
Setelah itu, rombongan bergeser. Bukan kembali ke Menteng, tetapi meluncur ke utara. Semula akan menuju makam di kampung Banda, Ancol, Jakarta Utara. Tetapi dibatalkan dan bergeser ke makam keramat di Masjid Luara Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Ini adalah masjid tua yang pembangunannya sudah berlangsung bertahun-tahun. Ketua pembangunan masjid ini adalah salah satu calon gubernur.
Di dalam masjid ini juga ada makam yang ‘dikeramatkan’ oleh sebagian masyarakat. Ritual seperti yang dilakukan di Kwitang juga berulang di makam Masjid Luara Batang ini. Hanya saja, doa di tempat ini lebih pendek. Jika di Kwitang seusai berdoa di makam, rombongan diterima oleh salah habib di kawasan itu, di Masjid Luar Batang rombongan langsung peri begitu setelah berdoa. Tujuannya adalah makam para habib di kawasan Condet, Jakarta Timur.
Hari makin larut. Jarum jam mendekati pukul 00.00. Di makam habib di kawasan Condet, proses ritual berjalan lagi. Tetapi, kali ini doa yang dipanjatkan lebih pendek, meski pada ujung doa tetap menyebut salah satu calon gubernur.
Salah satu peserta ziarah itu berharap, kunjungan ke makam-makam keramat yang merupakan tokoh agama yang menyebarkan agama di sekitar Jakarta ini adalah bentuk penghormatan mereka dan juga calon gubernur yang mereka dukung terhadap tokoh tersebut.
Pukul 02.00, rombongan tiba kembali di kawasan Menteng. Setelah bersalam-salaman, mereka bubar sambil saling berpesan dan berdoa demi kemenangan salah satu calon, kalau bisa satu putaran!
Jadilah pemilih yang bernas!
***pro***
Palmerah, 10 Juli 2012

Jumat, 11 Mei 2012

1.821 Hari Penuh Arti untuk Faisal Basri


Sebanyak 1.821 hari lalu, ekonom yang juga mantan sekretaris jenderal sebuah partai politik (parpol) ini, diambil sumpahnya oleh seorang hakim. Dia kemudian memberikan keterangan dalam sebuah persidangan yang menyita perhatian masyarakat.  Sembilan anggota majelis hakim, anggota DPR, wakil pemerintah, kuasa hukum pemohon, dan sejumlah tokoh masyarakat mendengarkan pernyataannya.
Dia adalah Faisal Basri Batubara. Saat itu, tepatnya 15 Mei 2007, ayah tiga anak itu tidak sedang duduk di kursi pesakitan sebagai terdakwa. Dia, bersama dua orang lainnya, yaitu dr Abdul Rodjak, dan Totok P Hasibuan, dihadirkan sebagai saksi oleh  Suriahadi SH, kuasa hukum Lalu Ranggalawe, dalam sidang di Mahkamah Konstitusi (MK) dengan agenda pengujian UU No 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah terhadap UUD 1945.
Dalam sidang itu, Faisal menyampaikan pengalamannya mencalonkan diri sebagai Cagub DKI pada 2007 melalui sejumlah parpol, yaitu PDI Perjuangan, PAN, PKB, PDS, dan PNBK. Fungsionaris partai itu, kata Faisal, “Ada yang meminta saya untuk mendaftar, ada juga yang meminta saya untuk menyampaikan visi dan misi tercatat.
Pria kelahiran Bandung, 6 November 1959, ini menambahkan, setiap kali menyampaikan visi dan misi, selalu mendapat sambutan meriah dari para pengurus dan kader partai. Bahkan penyampaian visi dan misinya di depan Rakerdasus PDI Perjuangan DKI Jakarta, Faisal mendapat nilai terbaik kedua setelah Sarwono Kusumaatmaja. Selain karena materi pemaparan visi dan misinya yang bagus, dia juga mengaku rajin turun ke bawah, menemui para kader partai.
“Nilai paling tinggi adalah Pak Sarwono Kusumaatmaja 96, saya nomor dua 95, dan Fauzi Bowo paling buncit, paling kecil dan jauh jomplang, fakta itu tapi ternyata merekalah yang terpilih dialah yang terpilih,” ujar Faisal seperti tertulis dalam risalah sidang yang dimuat dalam www.mahkamahkonstitusi.go.id. Sidang dipimpin Ketua MK Prof Dr Jimly Asshiddiqie SH.
Seperti kita ketahui bersama, PDI Perjuangan akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Fauzi Bowo, Wagub DKI Jakarta 2002-2007, sebagai Cagub DKI pada Pemilukada 2007. PDI Perjuangan bergabung dengan 18 parpol. Ke-19 parpol itu meraih  72,37 persen suara pada Pemilu 2004 di DKI Jakarta. Abdul Radjak yang mencalonkan diri sebagai Cagub DKI dan Toto yang mencalonkan diri sebagai Walikota Pekanbaru juga gagal setelah mengikuti seleksi di internal parpol.
Saya ikhlas menerima itu, seperti saya katakan, hidup yang tidak pernah dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan. Insya Allah akan dimenangkan oleh Saudara-saudara saya di tempat lain. Jakarta boleh jadi memicu dari membaiknya di negeri ini,” ujar Faisal.
 Ketiganya diajukan menjadi saksi oleh Lalu Ranggalawe. Ranggalawe adalah anggota DPRD Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tanggara Barat, yang mengajukan gugatan UU 32 tahun 2004 ke MK. Surat permohonan semula diajukan 5 Februari 2007 tetapi diterima oleh panitera MK 7 Februari 2007 dan diregistrasi dengan Nomor 5/PUU-V/2007. Surat permohonan kemudian diperbaiki lagi pada 5 Maret 2007 dan 13 Maret 2007. Dua pengacara, yaitu  Suriahadi SH dan Edy Gunawan SH yang berdasarkan surat kuasa Nomor 04/SK/MK/AVD.S-E/2007 bertanggal 2 februari 2007 ditunjuk sebagai kuasa hukumnya. Ranggalawe berkeinginan menjadi Calon Gubernur/Wakil Gubernur pada Pemilukada NTB 2008.
Setelah melalui beberapa kali persidangan, sembilan majelis hakim pada 20 Juli 2007 membuat putusan yang kemudian diucapkan dalam sidang pleno MK pada Senin, 23 Juli 2007. Isi putusan itu membatalkan sejumlah pasal dalam UU No 32 tahun 2004 dan memunculkan pasal baru yang membolehkan adanya calon perorangan/independen pada Pemilukada tingat provinsi maupun kabupaten/kota.
Dan perjuangan Faisal lima tahun lalu, ia rasakan hari ini. Jumat (11/5), KPU DKI Jakarta mengumumkan enam pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang akan berlaga pada Pilgub DKI 2012. Dua dari enam pasangan calon itu berasal dari jalur independen, salah satu di antaranya adalah pasangan Faisal Basri-Biem Benjamin.
 Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Pencalonan KPU DKI Jakarta, Jamaluddin Faisal Hasyim, mengatakan, keenam pasangan calon itu ditetapkan berdasarkan surat keputusan KPU DKI No 20/KPTS/KPU-Prov 010/2012. "Kita melakukan verifikasi per individu dan juga kolektif (pasangan). Dari 33 berkas yang masuk, dan juga hasil tes kesehatan, dinyatakan seluruh pasangan memenuhi syarat kesehatan yang ditentukan aturan undang-undang Pemilu," katanya.
Keenam pasangan itu adalah pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono didukung 18 parpol, Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama didukung dua parpol,  Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli didukung tujuh parpol, Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini didukung satu parpol, Faisal Batubara -Biem Benjamin didukung 487.150 orang, dan pasangan Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria mendapat dukungan 419.416 orang.
Persyaratan calon perorangan untuk bisa maju dalam Pemilukada diatur dalam Ayat (2A) UU No 12 tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas UU No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Syarat dukungan untuk mencalonkan diri sebagai calon gubernur dan wakil gubernur abila jumlah penduduk di provinsi itu sampai dengan 2 juta adalah sekurang-kurangnya 6,5 persen, bila jumlah penduduk 2 juta sampai 6 juta maka jumlah dukungan sekurang-kurangnya 5 persen, jumlah penduduk 6 juta sampai 12 juta maka jumlah dukungan sekurang-kurangnya 4 persen, dan jumlah penduduk di atas 12 juta maka jumlah dukungan sekurang-kurangnya 3 persen.
Daerah Khusus Ibukota Jakarta, berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI bulan Oktober 2012, jumlah penduduknya tercatat 10.183.498 jiwa. Dengan demikian, calon yang akan maju melalui jalur independen minimal memperoleh dukungan awal sebesar 4 persen X 10.183.498 orang atau sekitar  407.339 orang yang memiliki hak pilih di Jakarta. Selamat kepada Bang Faisal untuk kembali berjuang setelah perjuangannya 1.821 hari lalu.
Pilih calon terbaik!



Palmerah, 110512
**Pro**